Indonesia Siap Tempur Lawan Eropa Soal Nikel!

Must read

Indonesia Siap Tempur Lawan Eropa Soal Nikel!
Indonesia Siap Tempur Lawan Eropa Soal Nikel!

Indonesia tidak gentar dengan gugatan Uni Eropa dalam hal kebijakan larangan ekspor bahan mentah bijih nikel (DS 592).

Eropa tidak senang terhadap kebijakan pelarangan bijih ekspor nikel Indonesia dan meminta pembentukan Panel World Trade Organization (WTO) pada 14 Januari 2021 untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Uni Eropa menilai kebijakan Pemerintah Indonesia tersebut melanggar sejumlah ketentuan WTO dan berdampak negatif pada daya saing industri baja di Uni Eropa. 

Uni Eropa sebenarnya mengajukan permintaan konsultasi pada 22 November 2019 sebagai respons diterapkannya larangan ekspor bijih nikel oleh Pemerintah Indonesia mulai 1 Januari 2020.

Setelah melalui proses konsultasi yang panjang namun tidak diiringi adanya perkembangan positif dari Uni Eropa, Indonesia telah mengambil langkah hukum melalui forum penyelesaian sengketa di WTO atas gugatan Uni Eropa terkait kebijakan larangan ekspor bijih nikel. 

Panasnya hubungan Uni Eropa dan Indonesia juga berdampak pada komoditas lain, yakni di sektor biodiesel. 

Pemerintah Indonesia meyakini Uni Eropa mengadopsi kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II). 

Renewable Energy Directive (RED) merupakan salah satu mekanisme yang dikeluarkan oleh Uni Eropa sebagai alat penekan untuk produk Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit Indonesia yang akan di ekspor ke Uni Eropa. 

Kebijakan tersebut tentunya menghambat kepentingan Indonesia dalam memajukan sektor sawit nasional meskipun telah mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan di dalam pengelolaannya.

Kebijakan RED II yang diadopsi Uni Eropa tentunya sangat berdampak terhadap keberlangsungan sektor sawit di Indonesia yang merupakan salah satu sektor andalan perekonomian nasional dan masyarakat luas. 

Baca Juga: Pengiriman Batu Bara Tersendat Akibat Cuaca Ekstrem

Uni Eropa telah menggunakan parameter yang tidak ilmiah dalam upayanya menghapuskan minyak sawit sebagai input produksi biodiesel dengan mengabaikan fakta bahwa minyak sawit lebih ekonomis, produktif, lebih sedikit memakan lahan, dan membantu peningkatan ekonomi masyarakat dibandingkan minyak nabati manapun. 

Cara tersebut digunakan Uni Eropa untuk memajukan industri minyak nabatinya yang kurang produktif dan tidak lebih efisien sebagai input produksi biodiesel.

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article