Indonesia Butuh Inovasi Teknologi Pengolah Batu Bara

Indonesia Butuh Inovasi Teknologi Pengolah Batu Bara

Indonesia Butuh Inovasi Teknologi Pengolah Batu Bara
Indonesia Butuh Inovasi Teknologi Pengolah Batu Bara

Pemerintah melalui Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan pada pemain industri batu bara soal perlunya partisipasi para pakar dan praktisi tambang untuk melakukan pengembangan teknologi dalam sistem pengolahan batu bara. 

Penyataan tersebut disampaikan dalam konferensi Save Indonesian Coal, yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI).

Bagi Arifin, di tengah terpaan harga batu bara yang belakangan terus mengalami penyusutan, dan tantangan dunia internasional soal transisi ke energi bersih, maka batu bara tidak bisa terus-terusan diandalkan guna mengisi pasar pembangkit listrik.

“Perlu adanya respon peran industri batu bara di masa mendatang. Saat ini sekitar 50,3 persen dari pembangkit listrik PLN berasal dari batu bara, dan masih merupakan energi fosil termurah. Namun tekanan isu lingkungan terhadap penggunaan batu bara terus meningkat,” ujar Arifin.

Tanpa adanya inovasi, sambungnya, dikhawatirkan industri pertambangan nasional bakal berhenti sebelum optimal dimanfaatkan. Untuk itu, perlu ada terobosan-terobosan terhadap peningkatan nilai tambah atau hilirisasi batu bara.

“Saya berharap Perhapi, yang merupakan organisasi para ahli dan profesi agar konsentrasi terhadap peningkatan nilai tambah batu bara. Kami mendorong perusahaan melakukan transformasi, dari yang biasanya menjual batu bara untuk pembangkit listrik, beralih menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” tuturnya.

Sejauh ini, kata Arifin, setidaknya ada tiga jenis teknologi pengolahan batu bara yang layak untuk dikembangkan di Indonesia.

Pertama, teknologi gasifikasi batu bara menjadi dymethil ether seperti yang dikembangkan oleh PT Bukit Asam, yang menggandeng PT Pertamina, PT Chandra Asri Petrochemical dan Air Product Inc.

Kedua, gasifikasi batu bara menjadi metanol seperti yang dibangun oleh konsorsium Grup Bakrie, yang melibatkan Ithaca Resources, PT Kaltim Prima Coal, dan Air Product Inc.

Ketiga, gasifikasi batu bara bawah permukaan atau underground coal gasification (UCG), yang saat ini sedang dijajaki oleh PT Kideco Jaya Agung bersama Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM.

Baca Juga: Sosialisasi Kebijakan Soal Logam Tanah Jarang

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Arifin menegaskan, Perhapi harus terus meningkatkan pembinaan terhadap profesional tambang, agar mampu menciptakan praktik penambangan yang baik dan benar.

“Penambangan harus memperhatikan good mining practices dan memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkar tambang,” pungkasnya.