Indonesia Akan Alami Krisis Energi

Indonesia Akan Alami Krisis Energi

Indonesia Akan Alami Krisis Energi
Indonesia Akan Alami Krisis Energi

Kebutuhan konsumsi atas energi di Indonesia terus bertumbuh seiring berjalannya waktu.

Jika berlanjut bukan tidak mungkin Indonesia akan alamin krisis energi di masa mendatang.

Hal tersebut disebabkan permintaan tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Maka dari itu pemerintah lebih berkomitmen dalam menyediakan energi untuk Indonesia.

Tercatat untuk saat ini saja Indonesia belum mampu secara sepenuhnya menyediakan kebutuhan energi dalam negeri.

Sementara di lain sisi cadangan energi Indonesia semakin menurun.

Bukan hanya minyak, gas dan batu bara juga mengalami penurunan.

Saat ini cadangan batu bara di RI hanya 3,7% dari cadangan dunia, tapi seperempat dari ekspor batu bara dunia atau 26% berasal dari Indonesia.

Baca Juga: Benarkah Full Cell Jadi Energi Alternatif Masa Depan?

Menurut Faisal Basri seorang ekonom saat ini memang RI sudah di posisi defisit energi.

“Jadi bukan hal baru lagi kalau dikatakan Indonesia krisis energi, jauh-jauh hari sudah bermasalah tata kelola pengelolaan migas di Indonesia sehingga membuat kita diambang krisis energi ke depannya, intinya kita krisis energi sejak RI menjadi net importer minyak” ujar mantan anggota Tim Pembentukan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

Zukhri menjelaskan lebih dalam Indonesia menggantungkan pada migas untuk memenuhi sekitar 47 persen dari kebutuhan energinya.

Kebutuhan migas sekitar 1,7 juta bph dan angka ini terus naik tiap tahun sedangkan produksi sekitar 780 ribu bph. Jadi defisit migas selalu ditutup dengan impor.

Oleh karena ini dibutuhkan “shifting” atau melirik sumber energi lain selain migas.

Indonesia sudah menjadi net importir minyak mentah tahun 2002 dan diperkirakan akan menjadi net importir gas pada 2022.

Solusi mengatasi krisis energi di Indonesia, Zukhri memberikan masukan untuk mengimbangi kebutuhan energi melalui, mulai mengembangkan renewable energi sebagai energi alternatif yang murah.

Baca Juga: Luhut Ingin Sulap Sampah Jadi Energi Pengganti Batu Bara

Selain itu menurut Zukhri menambahkan mulai investasi dalam pengambilan data dan pengeboran eksplorasi migas.

Cadangan migas akan terus turun tanpa adanya penemuan cadangan-cadangan baru.

“Intensif pengembangan Geothermal. RI memiliki potensi geothermal terbesar di dunia yakni sekitar 27 GWe” pungkasnya.