Indika Energy Gelar 19 Aksi Sustainability untuk Indonesia

Perusahaan energi terintegrasi, PT Indika Energy Tbk (Indika Energy) gelar 19 aksi sustainability bertema “Giving Back to the Community” di berbagai wilayah Indonesia secara serentak dalam rangka hari jadi ke-19.

Tak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan energi nasional, Indika Energy juga turut membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

“Perusahaan berusaha memastikan kegiatan usaha dan program pemberdayaan masyarakat selaras dengan pelestarian lingkungan untuk memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia,” kata Direktur Utama Indika Energy, Arsjad Rasjid, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Minggu (20/10/2019).

Indika-Energy-Gelar-19-Aksi-Sustainability-untuk-Indonesia
Indika Energy Gelar 19 Aksi Sustainability untuk Indonesia

19 aksi sustainability (keberlanjutan) Indika Energy Group melibatkan lebih dari 500 karyawan. 19 aksi ini sesuai pilar-pilar sustainabilty perusahaan yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Di Jakarta, kata Arsjad Rasjid, Indika Energy melakukan penanaman mangrove di Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yaitu sekitar 3,5 juta hektar.

Meski demikian, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat 40 persen hutan mangrove Indonesia dalam kondisi rusak.

“Penanaman mangrove ini dilakukan Perusahaan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup,” kata Arsjad Rasjid.

Baca Juga : Milenial Wajib Tahu 3 Hal Ini Mengenai Pertambangan

Beberapa kegiatan sustainability lain adalah di area kantor Bintaro dilakukan edukasi nutrisi, donasi buku dan revitalisasi gedung serbaguna. Sementara di Kalimantan Selatan, menanam 1.000 pohon dan menyerahkan ambulans air untuk warga pesisir sungai.

Hal serupa juga dilakukan di Kalimantan Timur dengan menanam 1.000 pohon bakau, pelatihan ternak bebek, dan kegiatan bersama anak-anak disabilitas. Sementara itu di Kalimantan Tengah, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis.

“Di Papua Barat, melakukan aksi tanam bibit pohon dan kampanye lingkungan hidup,” kata Arsjad Rasjid.

Forum INDY Talks

Sebagai rangkaian kegiatan hari jadinya ke-19, Indika Energy dan Indika Foundation juga menggelar forum INDY Talks pada 24 Oktober mendatang dengan didukung penggiat sosial dan berbagai organisasi di antaranya Sahabat Anak, Demibumi, Du’anyam.

Sejalan semangat “Inspirasi, Aksi, dan Kolaborasi”, forum ini bertujuan mendorong kolaborasi dan saling berbagi pengalaman antarorganisasi. Ajang ini diharapkan mampu menghasilkan dampak positif yang semakin besar terkait berbagai permasalahan sosial yang ada.

Indika Energy yang berdiri sejak 2000, telah turut membangun Indonesia melalui pembangunan proyek mahakarya industri energi nasional berskala besar mulai fasilitas pemrosesan dan kompresi gas di Aceh oleh Tripatra, hingga ke wilayah timur Indonesia dimana Petrosea membangun infrastruktur di Papua termasuk jalan, jembatan, rumah sakit dan pelabuhan.

Indika Energy Group juga mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan dalam setiap operasinya. Sebagai perusahaan tambang batu bara terbesar ketiga di Indonesia, Kideco Jaya Agung memasok batu bara bersih ramah lingkungan untuk pembangkit listrik tenaga uap yang menjadi kunci penggerak roda ekonomi masyarakat.

Sementara Cirebon Electric Power, perusahaan pembangkit listrik yang sebagian sahamnya dimiliki Indika Energy, menggunakan teknologi supercritical yang ramah lingkungan dengan tingkat efisiensi tinggi.

Operasional perusahaan juga didukung Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS), perusahaan transportasi dan logistik laut untuk barang curah dan sumber daya alam.

Produksi Freeport Turun, Pertumbuhan Ekonomi Papua Negatif di 2019

Produksi-Freeport-Turun-Pertumbuhan-Ekonomi-Papua-Negatif-di-2019
Produksi Freeport Turun, Pertumbuhan Ekonomi Papua Negatif di 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,02% di sepanjang 2019. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tak terjadi di seluruh pulau.

Ekonomi Pulau Maluku dan Papua mengalami pertumbuhan negatif 7,40%. Terdiri dari pertumbuhan di Maluku 5% dan Maluku Utara 6,3%, sedangkan Papua negatif 15,72%.

“Yang membuat (pertumbuhan Pulau Maluku dan Papua) menarik ke bawah karena pertumbuhan ekonomi di Papua kontraksi negatif 15,72%,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang negatif sudah terjadi di Papua sejak kuartal IV-2018. Pada periode itu pertumbuhan ekonomi Papua tercatat negatif 17,95%, padahal kuartal sebelumnya mampu tumbuh 6,20%.

Kemudian ekonomi Papua pada kuartal I-2019 tercatat tumbuh negatif 18,66%, kuartal II-2019 negatif 23,91%, kuartal III-2019 negatif 15,05%, dan kuartal IV-2019 negatif 3,73% .

Suhariyanto menjelaskan, penurunan ini imbas dari penurunan produksi tambang PT Freeport Indonesia yang memang berlokasi di Papua. Perusahaan melakukan peralihan sistem tambang ke underground atau penambangan bawah tanah.

“Penyebab utamanya adalah Freeport, penurunan produksi karena ada pengalihan sistem tambang,” katanya.