Imbas Corona ke Pertamina

Imbas Corona ke Pertamina

Imbas-Corona-ke-Pertamina
Imbas Corona ke Pertamina

Kecamuk pandemi corona secara signifikan berdampak melemahkan harga minyak.

Di tanah air sendiri Pertamina mengalami penurunan pendapatan dan permintaan setelah banyak masyarakat yang berkurang mobilitasnya selama pandemi berlangsung.

Direktur Utama PT. Pertamina (Persero), Nicke Widyawati buka-bukaan soal dampak pandemi Corona yang menimpa bisnis BUMN energi pimpinannya.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Nicke membeberkan bahwa bisnisnya tengah terhantam triple shock akibat krisis corona, mulai dari penurunan penjualan hingga pendapatan.

“Pertama, penurunan sales Pertamina terjadi secara signifikan. Sampai dengan kemarin, penurunan kita hampir mencapai 25 persen secara nasional, dan untuk daerah yang PSBB, penurunannya bisa sampai 50 persen, seperti DKI Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan. Ini penurunan luar biasa,” papar Nicke kepada pimpinan dan anggota Komisi VI DPR.

Secara nasional, penurunan penjualan diperkirakan mencapai hampir 25 persen dan diperkirakan mencapai hingga 26 persen pada akhir tahun.

Lalu yang kedua ialah gangguan fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS atau USD. Skenario terburuknya, nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp20.000 per USD.

“Lalu yang terakhir ialah fluktuasi harga minyak karena sangat dipengaruhi oleh supply demand. Dengan pemangkasan yang disepakati oleh negara OPEC plus, tentu ini juga akan berpengaruh,” jelas Nicke.

Baca Juga: Harga Sejumlah Produk Pertambangan Naik

Nicke juga mengatakan, 80 persen pemasukan Pertamina didominasi dari sektor hilir, sehingga tidak cuma pendapatan namun juga arus kas.

Oleh karenanya, Pertamina sangat membutuhkan pembayaran utang pemerintah untuk membantu kondisi perusahaan.

Adapun, utang pemerintah atas Pertamina mencapai Rp. 96,5 triliun. Pemerintah rencananya akan membayar Rp. 45 triliun di tahun ini. Sisanya, Rp. 51 triliun akan dibayarkan tahun depan.