IHSG ke Zona Merah Setelah Corona Jadi Pandemi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka ke zona merah setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan corona jadi pandemi.

IHSG-ke-Zona-Merah-Setelah-Corona-Jadi-Pandemi
IHSG ke Zona Merah Setelah Corona Jadi Pandemi

Kemarin WHO telah menyatakan wabah COVID-19 yang kini menjangkiti dunia sebagai pandemi. Artinya wabah ini telah menginfeksi banyak orang di penjuru dunia dengan laju yang sangat cepat.

Hal ini memicu IHSG tertekan lagi. Pada pembukaan perdagangan Kamis (12/3/2020), IHSG dibuka melemah 2,2% ke level 5.040,96 dan telah keluar dari level psikologis 5.100.

Beberapa menit setelah pembukaan berselang, IHSG anjlok makin dalam 3,7%. Sejak awal tahun dan jumlah kasus infeksi COVID-19 melonjak tinggi, IHSG jadi cedera parah. Sejak awal tahun hingga kemarin, IHSG telah anjlok sebesar 18,18%.

Indonesia yang sebelumnya tak tertembus COVID-19, akhirnya kebobolan juga. Kasus pertama dilaporkan awal Maret ini oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Dua orang yang menjadi kasus pertama di Indonesia adalah dua orang perempuan yang merupakan ibu (61 tahun) dan seorang anak (34 tahun).

Baca Juga: Dibayangi Virus Corona, Harga Emas Merana

Per hari ini, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 34 dengan satu kasus kematian. Korban meninggal di Indonesia adalah seorang yang berkebangsaan asing (WNA).

Pemerintah terus berupaya melacak kasus penyebaran COVID-19 di tanah air. Namun jumlah suspect COVID-19 tidak akan diumumkan berapa jumlahnya.

Corona Menjadi Sentimen Negatif di Bursa Saham

Merebaknya COVID-19 di berbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia telah menjadi sentimen negatif bagi bursa saham global dan tanah air. Saham-saham di tanah air sudah cedera parah.

Banyak saham-saham yang berfundamental bagus diobral murah di bursa dan ini membuat harga saham-saham tersebut menjadi semakin menjauhi nilai intrinsiknya.

Melihat IHSG yang sudah terseok-seok, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membolehkan emiten untuk melakukan buy back saham tanpa harus melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Selasa (10/3/2020) mengatakan ada 12 emiten pelat merah yang siap melakukan buy back saham dengan total anggaran Rp 7 triliun – Rp 8 triliun.

“Tadi sudah koordinasi untuk buyback saham, ada 12 BUMN yg akan buyback nilainya Rp 7triliun- Rp 8 triliun,” kata Arya Sinulingga, Staf Khusus Menteri BUMN di Kantor Kementerian BUMN, setelah melakukan pertemuan dengan para direksi perusahaan pelat merah, Selasa (10/3/2020).

Sebanyak 12 perusahaan pelat merah tersebut termasuk dalam 3 sektor, finansial, konstruksi, dan pertambangan.