Hore! Harga Batu Bara Tembus Level US$ 95/Ton

Must read

Laporan terbaru pada akhir perdagangan kemarin, menunjukkan harga batu bara termal acuan ICE Newcastle cenderung menguat dan tembus di level US$ 95/ton. Angka ini merupakan harga batu bara tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harga batu bara sekarang sudah naik lebih dari 35%.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/5/2021), harga kontrak berjangka (futures) batu bara ini sudah naik 2,55%, dan menyentuh levelnya yang sekarang.

Beberapa faktor yang membuat harga batu bara terangkat adalah kombinasi antara prospek perbaikan permintaan,  ketatnya pasokan dan aspek distribusi.

Situasi  pandemi Covid-19 memicu lockdown di berbagai  negara dan mobilitas masyarakat dibatasi. 

Hal ini tentunya membuat permintaan listrik dan juga batu bara terutama untuk sektor komersial dan industri ikut menurun.

Untungnya, gencarnya program vaksinasi membuat prospek pertumbuhan ekonomi semakin lebih baik.

Keadaan ini diharapkan dapat mendongkrak permintaan terhadap berbagai komoditas, salah satunya bahan bakar seperti minyak dan batu bara.

Selain itu, terjadi berbagai kendala terkait industri batu bara membuat Negeri Panda membuka keran impornya.

Tingginya permintaan impor China diharapkan mampu mengimbangi potensi penurunan permintaan dari India yang saat ini masih  kewalahan menangani pandemi lonjakan kasus Covid-19. 

Tidak hanya produksi China yang menurun, Indonesia juga mengalami penurunan produksi sepanjang kuartal pertama tahun 2021 sebesar 4,12% (yoy).

Total produksi tahun 2021 menjadi 143,69 juta ton dari 149,88 juta ton pada kuartal I 2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menjelaskan, turunnya produksi batu bara di kuartal I 2021 dikarenakan faktor cuaca buruk.

“Sebagian wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) juga banjir. Ini yang berpengaruh terhadap produksi batu bara,”  ungkapnya pada Selasa (04/05/2021).

Baca Juga: Pemerintah Dorong Pelaku Usaha Fokus Hilirisasi Batu Bara

Lebih lanjut, ia menilai, penurunan produksi di awal tahun sudah menjadi tren dari tahun ke tahun.

Menurutnya, biasanya di kuartal I, faktor cuaca menjadi penghambat laju produksi batu bara.

“Jika melihat tren produksi, biasanya di kuartal I di tahun-tahun sebelumnya, tingkat produksi lebih rendah karena memang disebabkan oleh faktor cuaca,” pungkasnya.

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article