Hilirisasi Sektor Pertambangan

Presiden Joko Widodo di hadapan para pengusaha pertambangan anggota Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesian Mining Association (IMA), menyatakan pentingnya hilirisasi di sektor pertambangan. Jika hilirisasi pertambangan bisa dilakukan, masalah defisit neraca perdagangan bisa dituntaskan.

Presiden mengaku telah memperhitungkan jika sektor pertambangan melakukan hilirisasi, dalam waktu kurang dari tiga tahun masalah defisit neraca perdagangan bisa tuntas. Apalagi, sektor pertambangan memiliki banyak komoditas yang bisa dihilirisasikan. Jokowi mengaku sempat membuat sebuah skenario jika hilirisasi industri nikel bisa terjadi sepenuhnya, persoalan defisit neraca transaksi perdagangan dan neraca transaksi berjalan bisa selesai dalam kurun waktu tiga tahun.

Saat ini, potensi ekspor nikel sebesar 10 miliar dollar AS. Artinya, masih tersisa 24 miliar dollar AS lagi yang harus dioptimalisasi. Maka, langkah hilirisasi bisa mendorong minat investor terhadap investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia sehingga defisit neraca dagang Indonesia bisa membaik. Saat ini, 98 persen produksi nikel domestik diekspor ke Tiongkok. Padahal, jika diolah sendiri di dalam negeri bisa membantu mendorong penerimaan negara lebih besar.

Baca juga: Upaya Menguak Legenda Tambang Emas Misterius

Kalau diproduksi dalam negeri dengan listrik, bisa lebih murah. Proses hilirisasi adalah membuat barang tambang yang semula hanya dijual sebagai barang mentah bisa memiliki nilai tambah lebih besar karena melalui proses industrialisasi menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Nantinya, tak hanya nikel, pemerintah juga akan melakukan hilirisasi timah dan bauksit setelah 2024 sehingga kerangka mobil listrik itu juga nanti bisa menggunakan semua komponen dalam negeri dari nikel dan turunannya.

Hilirisasi Sektor Pertambangan

Hilirisasi industri menjadi strategi yang tepat untuk negara-negara yang mempunyai sumber daya alam berlimpah dan dapat menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan oleh sektor ini sebagai input bagi proses industrialisasi. Memang, program hilirisasi bukanlah perkara mudah. Sebab, hilirisasi perlu didukung oleh industri dasar yang efisien untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau setengah jadi. Tentunya dengan hilirisasi industri pertambangan banyak sekali manfaat yang didapat.

Di antaranya, menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Selain itu, hasil produk tambang dapat digunakan untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun internasional, sehingga hasil ekspor tambang tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi negara. Presiden Jokowi bahkan mengungkapkan ada banyak sekali yang bisa dilakukan dari industri pertambangan, termasuk menciptakan nilai tambah di dalamnya. Dicontohkan, gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether dan elpiji, bisa jadi petrokimia, metanol, dan lain-lain. Kalau ini terwujud, tak perlu impor elpiji dan petrokimia yang besar.

Presiden juga mengajak para pelaku industri pertambangan di Indonesia untuk bersiap menuju ke arah tersebut. Presiden menjanjikan untuk memberikan kemudahan bagi pengusaha yang ingin mengembangkan hilirisasi. Di era globalisasi ini, setiap negara membangun perekonomiannya melalui kegiatan industri dengan mengolah sumber daya alam yang ada di negaranya. Hal ini dilakukan agar dapat bersaing dengan negara lain dan memajukan perekonomiannya.

Terpenting, pemerintah konsisten dengan program hilirisasi industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Tak perlu lagi ada penundaan kebijakan, apalagi perlakuan khusus. Sekali langkah menuju hilirisasi industri pertambangan berjalan, pantang berubah haluan.