Hilirisasi Batu Bara

Hilirisasi Batu Bara

Hilirisasi Batu Bara
Hilirisasi Batu Bara

Indonesia harus berbangga telah punya hilirisasi batu bara karya Raden Umar Hasan Saputra, penemu, pemilik, dan pemegang kuasa penggunaan paten pupuk batu bara dunia.

Batu bara diciptakan sangat banyak dan relatif merata di seluruh dunia. Walaupun sebelumnya menjadi sumber utama energi, saat ini tidak demikian.

Batu bara mulai ditinggalkan karena dianggap dirty energy. Bisnis batu bara saat ini dianggap sudah sunset. Bahkan, di beberapa negara dianggap mati.

Sepertinya, ini bertentangan dengan falsafah dasar penciptaannya. Dia diciptakan banyak.

Harusnya manusia menggunakannya dalam jumlah banyak dan untuk sesuatu yang sangat penting.

Ketika terjadi masalah luar biasa, cara kita mengatasinya tidak selalu harus berpikir luar biasa.

Cobalah berpikir di luar kebiasaan. Contohnya, dalam pengembangan teknologi hilirisasi batu bara, yang insentifnya untuk ini telah digulirkan pemerintah.

Tujuan utama hilirisasi batu bara adalah meningkatkan nilai tambah.

Baik ditinjau dari kacamata bisnis maupun keramahannya terhadap lingkungan. Sayangnya, basis pemikirannya saat ini belum berubah. Batu bara merupakan sumber energi.

Di antara teknologi pengolahan atau hilirisasi yang ada, terdapat dua yang dianggap luar biasa.

Pertama, mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair. Kedua, teknologi coal gasification, batu bara diubah menjadi gas.

Baca Juga: Strategi Investasi Saham ala Lo Kheng Hong

Untuk teknologi pertama, saat ini hanya Afrika Selatan yang menggunakannya. Investasi teknologinya sangat besar.

Banyak negara termasuk Indonesia tidak menggunakannya karena dianggap tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.