Harga Si Hitam Manis Batu Bara Kembali Didera Koreksi

Must read

Harga Si Hitam Manis Batu Bara Kembali Didera Koreksi
Harga Si Hitam Manis Batu Bara Kembali Didera Koreksi

Harga batu bara dunia kembali menunjukkan koreksi, yakni tidak memuaskan selama sepekan yang disusul dengan kian memudarnya risiko pengetatan suplai akibat banjir Australia.

Pada perdagangan kemarin Kamis (1/4/2021), harga batu bara termal acuan Newcastle untuk kontrak yang ramai ditransaksikan dibanderol di level harga US$ 91,9/ton atau terhitung menguat 1,6% dari posisi sehari sebelumnya.

Kendati demikian, secara mingguan, level penutupan tersebut terhitung turun 3,7% dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya pada US$ 95,4/ton. Koreksi ini membalik tren sepekan sebelumnya yang menguat sebesar 1,6%.

Kemudian di sepanjang Maret, harga komoditas andalan Indonesia juga terhitung melonjak 9% dibandingkan dengan posisi akhir bulan Februari mencapai US$ 82,95 per ton. Harga tertinggi yang pernah dicapai tahun ini dicetak pada 22 Maret, yaitu sebesar US$ 98,4/ton. 

Hal ini terjadi karena banjir wilayah produsen batu bara utama di Australia. Banjir terburuk selama 50 tahun terakhir ini membuat 18.000 warga mengungsi dan raksasa batu bara Australia Glencore harus memberhentikan operasi di salah satu fasilitas produksi batu baranya.

Sebagai dampaknya, pada kuartal pertama tahun 2021 harga batu bara dunia mencatatkan performa yang apik dengan kenaikan hampir 11%. Meski demikian, pada Sabtu (25/3/2021). Warga kembali ke rumah masing-masing karena banjir dinyatakan sudah surut.

Baca Juga : Sumber Daya Batu Bara Indonesia capai 143 Miliar Ton

Kabar baik ini perlahan menghapus risiko seretnya pasokan batu bara dunia, sehingga harga batu bara langsung anjlok pada Senin pekan ini, kembali ke level psikologis 80, tepatnya pada US$ 88,3 per ton.

Sebelumnya,  harga batu bara juga kembali ke level psikologis 90 pada Rabu lalu setelah pemerintah China memutuskan untuk membuka keran impor, kecuali dari Australia karena keduanya sedang bersitegang dalam perang dagang. Sentimen positif ini turut didukung dengan bangkitnya ekonomi secara perlahan karena vaksinasi yang terus digencarkan di berbagai negara.

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article