Harga Nikel Catatkan Kinerja Terbaik di 2019

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, harga nikel mampu menjadi yang terbaik dengan tumbuh hingga 31,79% sepanjang 2019. Pada awal 2019, nikel mengawali harga di level US$ 10.680 per metrik ton dan kemudian menutup tahun 2019 di level US$ 14.075. Namun ia menyebut, harga nikel terhambat pada kuartal IV 2019.

Sepanjang 2019, nikel tercatat sebagai komoditas logam industri dengan kinerja paling mentereng. Nikel menjadi satu-satunya komoditas yang mencatatkan pertumbuhan harga dua digit. Hanya saha, di kuartal akhir 2019, harga nikel justru menjadi yang paling loyo.

“Pada kuartal tersebut, terjadi hambatan dalam pembuatan baterai mobil listrik. Padahal baterai pada mobil listrik yang mendorong pertumbuhan nikel sepanjang tahun,” ujar Wahyu

Wahyu menjelaskan pelambatan permintaan mobil listrik dari China turut menghambat kinerja nikel. Dampak perlambatan tersebut, pada kuartal IV 2019, harga nikel untuk pengiriman tiga bulan di depan di London Metals Exchange susut 18,97%. Pada September 2019, harga nikel masih berada pada level US$ 17.370 per metrik ton kemudian turun menjadi US$ 14.075 per metrik ton pada 31 Desemeber 2019.

Baca Juga : Proyeksi Ekspansi Tambang Batubara Tahun 2020

Tahun ini, kata Wahyu, harga nikel akan terpengaruh kebijakan larangan eksport biji nikel Indonesia. Sebab Indonesia merupakan pemasok 27-28% kebutuhan nikel dunia.

Sementara Filipina sebagai pemasok nikel terbesar kedua juga mulai mengalami penurunan produksi karena peraturan lingkungan yang ketat. Ditambah kualitas nikel Filipina dinilai lebih rendah dibanding nikel Indonesia.

“Dua faktor tersebut amat disayangkan, padahal permintaan nikel akan meningkat seiring dengan meningkatnya keberadaan mobil listrik. Berdasarkan Fastmarkets, diperkirakan permintaan nikel yang pada 2018 sebesar 36.000 ton akan mencapai 350.000 ton-500.000 ton pada 2025,” ujar Wahyu.

Wahyu memproyeksikan, harga nikel akan menguji level tertinggi pada 2014 silam yakni US$ 21.600 per metrik ton. Tapi kemungkinan ini baru bisa terjadi jika harganya bisa menembus level US$ 18.842 per metrik ton.