Harga Minyak Merosot Lebih dari 19%

Dalam empat pekan, harga minyak merosot lebih dari 19%. Harga minyak WTI masih turun setelah terkoreksi dalam empat minggu berturut-turut hingga akhir Januari lalu atau sejak awal tahun. Harga minyak WTI tertinggi tahun ini adalah US$ 63,04 per barel yang tercapai pada 6 Januari lalu.

Harga minyak masih melanjutkan penurunan yang terjadi dalam dua pekan terakhir.

Senin (3/2) pukul 7.13 WIB. Harga minyak WTI untuk pengiriman Maret 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 50,98 per barel.  Turun 1,12% ketimbang posisi akhir pekan lalu. Dalam sepekan, harga minyak WTI merosot 4,06%.

Baca Juga : Angin Segar untuk Kontraktor Batu Bara!

Serupa, harga minyak acuan internasional brent pun turun dalam empat pekan terakhir sejak awal tahun. Pagi ini, harga minyak brent untuk pengiriman April 2020 di ICE Futures berada di US$ 55,59 per barel, turun 1,82% dari posisi akhir pekan lalu.

Harga-Minyak-Merosot-Lebih-dari-19%
Harga Minyak Merosot Lebih dari 19%

Dalam sepekan terakhir, harga minyak brent merosot 5,10%. Bahkan, harga minyak ini sudah anjlok 18,33% dari posisi tertinggi harga minyak tahun ini US$ 68,07 per barel yang tercapai pada 6 Januari lalu.

Sumber Reuters mengatakan bahwa Joint Technical Committee OPEC dan non-OPEC akan bertemu pada 4-5 Februari besok di Wina, Austria. Pertemuan ini bertujuan untuk menilai dampak virus corona yang merebak dari China terhadap permintaan minyak.

Komite ini kemungkinan akan menghasilkan rekomendasi apakah akan memperpanjang pemangkasan produksi setelah Maret untuk produksi yang lebih rendah lagi.

Pejabat OPEC mempertimbangkan berbagai opsi untuk menghadapi potensi penurunan permintaan akibat penyebaran virus corona yang menewaskan sekitar 361 orang hingga saat ini.

“OPEC akan mendekati rencana menyeimbangkan pasar pada 2020 dan pemangkasan yang lebih besar daripada prediksi akan menopang pasar minyak yang masih tertahan kenaikan produksi non-OPEC,” kata Edward Moya, analis OANDA kepada Reuters.

“OPEC akan terpaksa mempertahankan pemangkasan setidaknya hingga akhir tahun. Ini dikarenakan kenaikan produksi non-OPEC tinggi daripada permintaan global di tahun ini,” imbuh Daniela Corsini, analis Intesa Sanpaolo.