Harga Kontrak Futures Batu Bara Tembus US$ 90/ton

Harga Kontrak Futures Batu Bara Tembus US$ 90/ton

Bak kesetanan, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle melesat tajam pada perdagangan kemarin, Selasa (12/1/2021), tembus ke level US$ 90,5/ton. 

Harga kontrak yang kadaluarsa akhir Februari tersebut menguat 6,35% dalam sehari. Kenaikan harga batu bara ini menjadi harga tertinggi tahun ini dan sejak  hampir dua tahun terakhir atau tepatnya 20 Maret 2020. 

Kenaikan harga batu bara masih dipicu oleh ketatnya pasokan di China. Minggu lalu, harga batu bara lokal China Qinhuangdao naik 8,9%. Sekarang harga batu bara China sudah tembus RMB 858/ton.

Jauh melampaui target pemerintah China yang memasaknya di RMB 500 – 570 per ton. Artinya ada selisih RMB 318/ton dari level tertingginya yang diizinkan oleh pemerintah China.

Konsumsi listrik di China memang sedang naik-naiknya. Musim dingin dan menjelang tahun baru Imlek membuat kebutuhan untuk penghangat ruangan menjadi meningkat.

Namun, permintaan yang tinggi tidak dibarengi dengan pasokan yang mencukupi.

Minimnya pasokan batu bara domestik juga membuat harga komoditas tambang tersebut melesat signifikan.

Pemerintah China terus berupaya untuk menaikkan produksi lokalnya dan melonggarkan kebijakan impor agar harganya turun dan permintaan dapat terpenuhi.

Namun kebijakan pelonggaran impor tersebut tidak kepada Australia. Saat ini, hubungan antara China dan Australia masih bermasalah setelah Australia meminta diadakan investigasi secara independen terkait asal muasal virus corona (Covid-19).

Tidak terima dengan tindakan tersebut, China membalasnya dengan aksi boikot produk-produk Australia, batu bara salah satunya.

Baca Juga: Awal 2021 Freeport Sumbang 45 Miliar Untuk Negara

Boikot batu bara Australia oleh China menguntungkan Indonesia sebagai pemasok batu bara terbesar kedua China.

Adanya percekcokan kedua negara tersebut membuat pasar menjadi dinamis. Di sisi lain, saat permintaan China anjlok, pangsa pasar impor batu bara Australia oleh India justru semakin bertambah.

Seperti yang ditulis oleh kolumnis Reuters Clyde Russel, hubungan bilateral Australia-China turut ‘menyetel kembali’ pasar batu bara lintas laut (seaborne) Asia Pasifik.

Impor China dari Indonesia melonjak menjadi 12,19 juta ton pada Desember, melampaui rekor sebelumnya 10,47 juta pada April 2019, dan naik hampir tiga kali lipat dari 4,3 juta yang tercatat pada November.

Impor batu bara Australia ke India mencapai 6,24 juta ton pada Desember, naik dari 5,06 juta pada November dan 5,48 juta pada Oktober. Tiga bulan terakhir ini impor batu bara Australia ke India mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya sebesar 4,81 juta dari Desember 2019.

Sedangkan, Impor India dari Indonesia mencapai 5,65 juta ton pada bulan Desember, di bawah volume dari Australia, dan turun dari 5,82 juta pada bulan November dan 6,75 juta pada bulan Oktober.

“Angka Desember ini juga jauh di bawah rekor impor India dari Indonesia, 10,58 juta ton pada April 2019.” tulis Russell sebagaimana diwartakan Reuters.