Harga Batubara Tersungkur

Harga Batubara Tersungkur

Harga-Batubara-Tersungkur
Harga Batubara Tersungkur

Tak hanya minyak yang jatuh akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Harga batubara juga ikut tersungkur, Senin (27/4), harga batubara kontrak acuan Newcastle Australia ditutup di USD 50,9 per ton atau melemah 3,14 persen dari periode sebelumnya.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan, penyebab harga batubara jatuh saat ini karena permintaan domestik dan pasar internasional sedang turun.

“Namun dampaknya mungkin belum besar terkait adanya Covid-19 ini,” kata Komaidi.

Dia memperkirakan, permintaan batubara dalam negeri masih rendah, sehingga industri akan menyesuaikan dengan tidak meningkatkan kapasitas produksi.

Meskipun bagi eksportir batubara akan terdampak langsung akibat turunnya harga ini.

Komaidi menduga saat ini porsi ekspor batubara lebih besar daripada alokasi pasar dalam negeri.

“Porsi pastinya belum punya datanya, namun makro datanya lebih besar ekspor dibanding alokasi domestik,” ujar dia.

Sebelum adanya pemyebaran Covid-19 di berbagai negara, harga batu bara cenderung stabil.

Namun pandemi ini menyebabkan pemerintah di berbagai negara di dunia mengambil langkah pembatasan sosial (social distancing) dan bahkan karantina wilayah (lockdown).

Orang-orang dipaksa tinggal diam di rumah, pusat perbelanjaan sepi, perkantoran, pabrik dan sekolah diliburkan. Akibatnya kebutuhan listrik mengalami penurunan.

Baca Juga: Permintaan China Meningkat sejak Maret 2020

Berdasarkan data Asosiasi Batu Bara Dunia (WCA) sebanyak 38 persen pembangkit listrik global menggunakan tenaga batu bara.

Dengan penurunan konsumsi listrik yang signifikan membuat permintaan batu bara juga menurun.

Apalagi harga minyak yang tertekan lagi dan ini berpotensi membuat harga batu bara turun.

Harga minyak mentah acuan AS yakni WTI kontrak pengiriman Juni 2020 anjlok hingga 24 persen sementara Brent sebagai acuan internasional turun 6 persen.