Harga Batu Bara Turun 2%

Data Refinitiv menunjukkan harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle kemarin (10/2/2020) ditutup di level US$ 68,6/ton turun 2% dibanding posisi sebelumnya. Turunnya harga terjadi setelah harga batu bara mencetak rekor tertinggi pada 6 Februari. Harga tertinggi tersebut sejak 17 Januari 2020.

Harga batu bara kembali ditutup melemah. Wajar saja setelah cetak rekor tertinggi, harga batu bara kontrak biasanya akan cenderung melorot dan setelah itu memasuki periode sideways.

Harga-Batu-Bara-Ambles-2%
Harga Batu Bara Turun 2%

Sejak September tahun lalu, harga batu bara cenderung bergerak dengan pola sideways. Setelah menyentuh level tertinggnya, harga batu bara kembali melorot karena ada indikasi para trader yang ambil untung dari apresiasi harga.

Baca Juga : Tahun Depan Produksi Freeport Diramal Kembali Normal

Setelah itu, harga batu bara kembali bergerak sideways. Sejak September 2019 hingga penutupan perdagangan kemarin, harga batu bara bergerak di rentang US$ 66 – US$ 77 per ton.

Corona Penyebab Fluktuasi

Merebaknya virus corona menjadi salah satu alasan terjadinya fluktuasi harga batu bara. Saat pertama kali merebak dengan signifikan, virus corona telah membuat harga batu bara ambles.

Namun koreksi yang terjadi membuat harga menyentuh level supportnya dan harga batu bara mengalami technical rebound. Selain itu, penipisan stok batu bara China di tengah pembatasan akses transportasi publik dan barang cukup juga turut mendorong harga batu bara untuk kembali melesat.

Namun hingga Februari awal aktivitas impor batu bara di negara-negara cekungan Pasifik terutama kawasan Asia belum menunjukkan perbaikan. Kinerja impor masih tertekan.

Sejak awal bulan hingga periode 4 Februari 2020, impor batu bara China hanya 1 juta ton. Jauh lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1,9 juta ton. Penyebabnya apalagi kalau bukan libur panjang imlek dan merebaknya virus corona.

Refinitiv memperkirakan permintaan batu bara China untuk Februari dan Maret akan turun masing-masing 2,8 juta ton dan 2 juta ton akibat program hydro model yang lebih menguntungkan peralihan dari batu bara ke tenaga air untuk pembangkit listrik.

Sementara impor batu bara Jepang dan Korea Selatan juga lebih rendah. Pada beberapa hari awal bulan Februari, impor batu bara Negeri Ginseng sebanyak 130 kiloton, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,2 juta ton.

Beralih ke Negeri Sakura, impor batu bara bulan Februari Jepang juga lebih rendah, hanya 439 kiloton lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,5 juta ton.

Sementara impor batu bara juga mengalami penurunan di India. India mengimpor batu bara sebanyak 585 kilo ton pada awal Februari. Angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,8 juta ton.

Jadi wajar saja jika harga batu bara kembali tertekan. Selain karena aksi profit taking, secara fundamental juga tidak mendukung untuk harga kembali naik.