Harga Batu Bara Terus Anjlok, Kena Virus?

Harga batu bara terus anjlok pada perdagangan kemarin. Harga batu bara seolah terjun bebas sejak cetak rekor tertingginya di tahun ini pada 13 Januari lalu.

Kemarin, Kamis (23/1/2020) harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup di level US$ 68,15/ton. Harga melorot 15 sen atau 0,22% dibanding posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Sejak pertengahan Januari hingga kemarin, harga batu bara telah anjlok 11,6% hingga kemarin secara point to point.

Mengutip laporan yang dirilis Refinitiv, tahun 2019 perdagangan batu bara lewat jalur laut tumbuh minimal 0,7% yoy. Total impor dan ekspor batu bara tahun lalu mencapai 1,218 miliar ton dari sebelumnya 1,210 miliar ton pada 2018.

Kenaikan perdagangan ini didorong oleh aktivitas ekspor yang tinggi dari negara-negara penghasil batu bara seperti Indonesia, Australia, Rusia dan Kanada. Hal ini diungkapkan oleh importir asal Jerman VDKI.

Jika dibandingkan dengan tahun 2018, pertumbuhan volume perdagangan tahun lalu tergolong melambat. Pasalnya pada 2018 volume pertumbuhan tercatat mencapai 3,7% yoy.

Baca Juga : Perkembangan Kinerja Produsen Batu Bara Raksasa

Tahun lalu juga diwarnai dengan anjloknya harga batu bara. Harga batu bara anjlok lebih dari 30% dalam setahun. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda harga akan naik lagi karena kurangnya katalis positif.

Pelemahan Ekonomi India Pengaruhi Impor

Refinitiv dalam laporannya menyebutkan bahwa impor batu bara India juga mengalami penurunan signifikan. Impor batu bara termal India yang anjlok diakibatkan oleh pelemahan ekonomi yang terjadi di negara tersebut.

Aktivitas perdagangan lewat jalur laut juga masih terindikasi belum bergairah. Hal ini tercermin dari masih rendahnya permintaan terhadap kapal kargo yang digunakan untuk mengirim komoditas ini.

Belum lagi saat ini dunia juga digemparkan oleh isu merebaknya virus korona di berbagai negara terutama di China. Virus yang masih sejenis dengan SARS ini menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu di awal infeksi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu penderita mengalami pneumonia parah yang dapat menyebabkan kematian.

Saat ini sudah ada 830 kasus yang dilaporkan dan serangan virus ini telah merenggut nyawa 25 orang. Virus ini awalnya ditemukan di kota Wuhan, salah satu kota terpadat di Provinsi Hubei, China yang dihuni oleh lebih dari 10 juta orang.

Virus ini juga ditemukan di negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Vietnam bahkan Amerika Serikat. Kasus yang dilaporkan di negara lain juga terindikasi berasa dari Wuhan karena penderitanya sebelumnya sempat bepergian ke Wuhan.

Untuk mencegah virus ini terus menyebar. Akses transportasi di kota Wuhan, Enzhou dan Huanggang dibatasi. Akses transportasi yang dibatasi meliputi transportasi darat seperti bus dan kereta, udara dan kapal feri.

Jika virus ini merebak dan menjadi epidemi seperti SARS 2002-2003 lalu, ekonomi akan terkena dampaknya terutama sektor transportasi, pariwisata dan perdagangan.