Harga Batu Bara Terkoreksi ke US$ 82/ton

Harga Batu Bara Terkoreksi ke US$ 82/ton
Harga Batu Bara Terkoreksi ke US$ 82/ton

Harga kontrak futures (berjangka) batu bara ICE Newcastle pada Selasa (16/2//2021) kembali ditutup dengan terkoreksi 1,32% ke US$ 82,25/ton. Sudah 5 hari belakangan ini, harga batu bara terus melorot. 

Musim dingin akan segera berakhir. Harga batu bara mulai berangsur turun. Relaksasi kebijakan impor China serta upaya pemerintahnya untuk terus mendongkrak produksi batu bara membuat harga si batu legam domestik mulai ‘jinak’.

Di awal Februari lalu, harga batu bara sempat melesat tajam karena adanya permintaan yang membaik terutama dari Asia yaitu China dan India. Ketatnya pasokan batu bara China membuat harganya melonjak signifikan. 

Apalagi kebutuhan listrik saat musim dingin dan perayaan tahun baru Imlek biasanya meningkat. Umumnya, musim dingin di Negeri Panda terjadi sejak Desember hingga Februari. Saat musim dingin tiba kebutuhan akan pemanas ruangan meningkat.

Harga batu bara acuan Qinhuangdao China sudah mulai mendekati level RMB 650/ton. Terakhir harganya berada di RMB 663/ton atau sekitar US$ 102/ton. Selisih harga batu bara termal Newcastle dan acuan China mulai menyempit. Perlahan-lahan harga batu bara mulai melandai.

Hubungan Australia dengan China yang tak akur justru menguntungkan Indonesia sebagai salah satu pemasok batu bara untuk Negeri Panda. Hal ini juga disampaikan oleh lembaga pemeringkat utang global Fitch Ratings.

Impor batu bara China melonjak menjadi 39,08 juta ton pada Desember 2020 dari 2,77 juta ton tahun sebelumnya karena Beijing melonggarkan pembatasan impor untuk mengurangi kendala pasokan di dalam negeri di tengah musim dingin yang ekstrim serta adanya peningkatan aktivitas ekonomi.

Baca Juga : Siap-siap! Harga Batu Bara Meroket Lagi

Data dari Fitch Ratings melaporkan, impor batu bara China tahun 2020 naik 1,4% (yoy) menjadi 304 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Ini merupakan impor tertinggi sejak 2014. Total pembangkit listrik termal naik 6,6% dan 9,2% (yoy) masing-masing pada November dan Desember 2020.

Produksi batu bara China turun 0,1% yoy pada tahun 2020. Produksi di Mongolia Dalam, provinsi penghasil batu bara terbesar di negara itu pada tahun 2019, turun sebesar 3% (yoy) pada tahun 2020 meskipun ada pembalikan kebijakan pemerintah pada bulan Oktober untuk meningkatkan produksi menjelang musim dingin.