Harga Batu Bara Stagnan, Saham Tambang Kurang Semangat

Harga Batu Bara
Harga Batu Bara Stagnan, Saham Tambang Kurang Semangat

Harga bara acuan Ice Newcastle pada hari Selasa (17/18/2019) ditutup menguat 0,07% ke level US $67,2/ton. Sejatinya harga batu bara dalam tren penurunan, sejak 21 November 2019 hingga penutupan perdagangan kemarin harga batu bara sudah terkoreksi 0,75%.

Secara bobot, kapitalisasi saham-saham batu bara di sektor pertambangan mencapai 55,5%, sehingga pengaruh pergerakannya akan sangat terasa pada sektor tersebut.

Data bursa mencatat dari 19 emiten yang sahamnya aktif ditransaksikan di bursa, sembilan diantaranya melemah, enam saham stagnan dan sisanya 4 saham menguat. Hal ini berimbas pada kinerja sektor pertambangan di bursa yang tergerus hingga 0,72%.

Harga Saham Batu Bara

Harga saham emiten pertambangan batu bara di bursa kembali ditransaksikan secara bervariatif setelah harga batu bara (coal) di tingkat global sempat naik tipis.

Tahun ini memang bukan tahunnya komoditas batu bara kontrak Januari turun 33,73% sejak awal tahun hingga Selasa (17/12). Tren pelemahannya terhenti pada harga USD 63,1/ton yang merupakan harga terendah tahun ini yang tersentuh pada 28 Agustus.

Sejak saat itu harganya bergerak di kisaran USD 65/ton hingga USD 71,75/ton. Secara fundamental penguatan komoditas tersebut belum kuat-kuat amat, impor batu bara China awal bulan hingga Selasa (17/12) mencapai 8,7 juta ton. Total impor sejak awal bulan tersebut telah melebihi jumlah impor pada periode yang sama tahun lalu yang hanya 8,1 juta ton.

Baca juga: Di Bawah Target, Kementerian ESDM: Batubara Domestik Terpenuhi

Beralih ke Negeri Sakura dan Negeri Ginseng, impor batu bara Jepang dan Korea Selatan sejak awal bulan tercatat masing-masing 7,7 juta ton dan 4 juta ton.

Jika dibanding periode yang sama tahun lalu maka jumlah tersebut lebih rendah, mengingat impor batu bara Jepang mencapai 8,4 juta ton dan Korea Selatan mencapai 5,5 juta ton.

Impor batu bara India di awal bulan Desember tahun ini mencapai 7,5 juta ton, menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 8,4 juta ton. Total persediaan batu bara di berbagai pembangkit listrik di India naik menjadi 29,8 juta ton atau setara dengan 17 hari penggunaan.

International Energy Agency

Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) menyebut permintaan batu bara global akan tetap stabil hingga 2024. Dalam laporan tersebut IEA menyebutkan bahwa penurunan permintaan di Eropa dan AS akan diimbangi oleh peningkatan permintaan dari kawasan Asia.

Laporan IEA dipublikasikan setelah negosiator dari 190 negara bertemu di Madrid untuk menegaskan kembali perjanjian Paris 2015. “Walau pangsa pasar bahan bakar rendah karbon terus tumbuh dalam beberapa dekade terakhir, realitanya batu bara masih menjadi bahan bakar utama global. Konsumsi batu bara global saat ini telah naik lebih dari 65% dibanding tahun 2000.