Harga Batu Bara Relatif Stabil Meski China Stop Impor

Harga batu bara relatif stabil meski China untuk sementara menghentikan impor batu bara hingga 1 April mendatang.

Harga-Batu-Bara-Relatif-Stabil-Meski-China-Stop-Impor
Harga Batu Bara Relatif Stabil Meski China Stop Impor

Kebijakan tersebut diambil akibat pandemi virus corona atau COVID-19 yang menyebabkan menurunnya aktivitas ekonomi Negeri Tiongkok.

Dibandingkan dengan komoditas lainnya, harga baru bara relative lebih stabil di pekan ini meski China menghentikan sementara impornya.

Sepanjang pekan ini, harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup melemah 0,8% ke level US$ 65,45/ton, berdasarkan data Refinitiv.

Sementara komoditas lainnya, seperti minyak mentah ambles 25% dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) anjlok 6,81%.

Meski relatif lebih stabil, harga baru bara sempat menyentuh level terlemah sejak Agustus 2019 di US$ 64/ton pada perdagangan Senin (9/3/2020). Selain itu outlook batu bara juga masih belum bagus terutama akibat penurunan permintaan.

Baca Juga: RI Terpapar Corona, Emiten Batu Bara Masih Pede

Dalam 10 hari pertama di bulan ini, impor batu bara China sebesar 4,7 juta ton, berdasarkan data Refinitiv. Padahal tahun lalu pada periode yang sama impor batu bara China mencapai 5,9 juta ton.

Korea Selatan dan Jepang Kurangi Impor

Korea Selatan dan Jepang juga mengalami hal yang sama. Impor batu bara termal Korea Selatan dan Jepang sejak awal bulan sebesar 1,7 juta ton dan 2,7 juta ton.

Jumlah tersebut masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,7 juta ton dan 4,3 juta ton.

Pada bulan Maret ini, Korea Selatan merencanakan untuk tidak mengoperasikan 21-28 pembangkit listrik bertenaga batu bara demi mengurangi emisi.

Platts Analytic di awal bulan ini memberikan outlook bearish (tren menurun) untuk baru bara dalam jangka pendek.

“Dampak utama dari virus corona terhadap impor dan permintaan batu bara dari China dan Asia secara keseluruhan akan bervariasi dari waktu ke waktu, tetapi jelas ini bearish dalam jangka pendek” tulis Platts sebagaimana dilansir S&P Global.

Penyebaran pandemi COVID-19 di China memang sudah menunjukkan pelambatan, tetapi pemerintah Beijing masih membatasi pergerakan warganya, sehingga Platts Analytics melihat akan adanya penurunan permintaan industri dan berdampak negatif ke produk domestik bruto (PDB) secara keseluruhan, serta menurunkan konsumsi batu bara.