Harga Batu Bara Ogah Keluar dari Zona Nyaman, Kenapa?

Kinerja impor batu bara di negara-negara pengimpor terutama di kawasan Asia seperti China, India, Jepang dan Korea Selatan semakin menurun.

Berdasarkan data Refinitiv, persediaan batu bara di pelabuhan utama China bagian utara yaitu Caofeidian, Qinhuagndao dan Jingtang berada di posisi 15,04 juta ton per 20 Desember lalu. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 17,31 juta ton.

Harga batu bara ditutup menguat tepat sehari sebelum hari Natal tiba, Selasa lalu (24/12/2019). Harga batu bara cenderung bergerak sideways sejak bulan September lalu.

Selasa lalu, harga batu bara berjangka ICE Newcastle ditutup naik 1,57% ke level US$ 67,8/ton. Sejak bulan September harga batu bara tidak pernah keluar dari rentang US$ 66 – US$ 72 per ton.

Baca Juga : Harga Emas Diprediksi Sulit Tembus USD 1.500 per Ounce

Impor Batu Bara

Impor batu bara China sejak awal bulan (month to date) mencapai 12,6 juta ton. Total impor sejak awal bulan Desember tahun ini melebihi jumlah pada periode yang sama tahun lalu yang hanya 11,9 juta ton.

Beralih ke Negeri Sakura dan Negeri Ginseng, impor batu bara Jepang dan Korea Selatan sejak awal bulan tercatat masing-masing 11,4 juta ton dan 6,4 juta ton.

Jika dibanding periode yang sama tahun lalu maka jumlah tersebut lebih rendah, mengingat impor batu bara Jepang mencapai 12 juta ton dan Korea Selatan mencapai 8,2 juta ton.

Data terbaru rilis Kementerian Keuangan Jepang, impor batu bara Negeri Sakura bulan November turun 12,6% secara tahunan (yoy). Impor bulan November mencapai 8,85 juta ton. Sementara impor batu bara sejak awal tahun hingga November mencapai 100,3 juta ton atau turun 4,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Impor batu bara India di bulan Desember tahun ini mencapai 10,9 juta ton. Jumlah ini menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 12,4 juta ton. Total persediaan batu bara di berbagai pembangkit listrik di India naik menjadi 30,9 juta ton.

Sumber : CNBC Indonesia