Harga Batu Bara Naik, Meski Dalam Bayangan Risiko COVID-19

Harga Batu Bara Naik,
Meski Dalam Bayangan Risiko COVID-19

Harga-Batu-Bara -Naik-Meski-dalam-Dalam-Bayangan-Risiko-COVID-19
Harga Batu Bara Naik, Meski dalam Dalam Bayangan Risiko COVID-19

Kemarin (17/3/2020) harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup menguat 0,3% ke level US$ 66,3/ton. Penguatan yang terjadi memang lebih tipis dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang mencapai 1%.

Kini pertambahan jumlah kasus baru di China sudah turun drastis dan mentok di angka 80.000-an sejak awal Maret lalu. Jumlah orang yang dinyatakan sembuh nyaris 70.000, sehingga sisa kasus aktif tinggal 10.000.

Harga batu bara kontrak ICE Newcastle kemarin kembali ditutup menguat dan menandai penguatan beruntun dalam tiga hari perdagangan terakhir.

Namun wabah COVID-19 masih menjadi sorotan utama di pasar dengan menjangkiti lebih dari separuh negara di dunia.

Wabah COVID-19 yang pertama kali muncul di China telah membuat puluhan kota negara tersebut berada dalam karantina ketat. Hal ini membuat aktivitas ekonomi seperti manufaktur dan pertambangan batu bara menjadi terhenti.

Turunnya kasus infeksi COVID-19 di China telah membuat aktivitas ekonomi China perlahan-lahan pulih. Reuters melaporkan warga China sudah mulai berani mengunjungi mall dan restoran.

Data Refinitiv menunjukkan, total persediaan batu bara di pelabuhan utama di China bagian utara sampai dengan 13 Maret 2020 mencapai 12,5 juta ton.

Angka ini jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 15,8 juta ton (-20,9% yoy). 

Baca Juga: Timah Turunkan Produksi dan Tahan Ekspor

Sementara itu impor batu bara China sejak awal Maret hingga kemarin tercatat mencapai 10,8 juta ton, naik dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 10,6 juta ton (+1,88% yoy).

Ini menjadi sentimen positif bagi batu bara, mengingat China merupakan konsumen batu bara terbesar di dunia. Saat wabah COVID-19 merebak dan berada pada puncaknya di Februari, aktivitas ekonomi terganggu.