Harga Batu Bara Masih Tertekan

Harga Batu Bara Masih Tertekan

Harga-Batu-Bara-Masih-Tertekan
Harga Batu Bara Masih Tertekan

Direktur ABM Investama Adrian Erlangga mengatakan, pergerakan harga batubara bergeser menyesuaikan supply dan demand.

Sementara itu, saat ini kebutuhan energi sedang anjlok sebagai imbas dari kontraksi ekonomi karena pandemi corona.

Apalagi, sambung Adrian, pandemi corona menyebabkan beberapa pelabuhan di negara tujuan ekspor utama batubara ditutup, sehingga jalur distribusi pun terganggu.

“Industri batubara di 2020 akan tertekan selama ekonomi masih belum kembali normal,” ungkap Adrian.

Harga dan pasar batubara ditaksir bakal kembali tertekan di periode Kuartal II.

Menyikapi kondisi tersebut, PT. ABM Investama Tbk (ABMM) pun memasang strategi mitigasi untuk menjaga kinerja di tengah pandemi corona (covid-19).

Meski tren penurunan harga di Kuartal II masih berlanjut, tapi Adrian memprediksi hal tersebut tidak akan signifikan.

Bahkan, Adrian pun menaksir pasar batubara bisa kembali menghangat dengan syarat, pelabuhan dan jalur distribusi ke negara tujuan ekspor bisa kembali normal.

Baca Juga: Strategi Ekspor Batu Bara BUMI dan Adaro

“Harga Kuartal II masih akan tertekan, tapi penurunnya sudah landai karena harga sudah terlalu rendah. Kecenderungan akan meningkat ketika pelabuhan tujuan ekspor sudah mulai dibuka,” ujar Adrian.

Di tengah kondisi ini, ABMM pun kian fokus untuk mengincar diversifikasi pasar ekspor. Maklum, selama ini sekitar 80% penjualan batubara ABMM terfokus di India dan China.