Harga Batu Bara Masih Berupaya ke US$ 60

Harga Batu Bara Masih Berupaya ke US$ 60

Harga-Batu-Bara-Masih-Berupaya-ke-US$60
Harga Batu Bara Masih Berupaya ke US$ 60

Perekonomian global mulai kembali merangkak dengan skema “New Normal”,  harga batu bara acuan Newcastle masih sulit untuk menembus level psikologis pra-pandemi di US$ 60/ton. Apalagi hubungan Canberra dan Beijing masih diliputi dengan ketegangan.

Harga batu bara Newcastle untuk kontrak yang ramai diperdagangkan melemah 1,33% ke US$ 55,45/ton.

Secara month to date harga batu bara mengalami koreksi sebesar 1,51%. Namun jika ditarik ke belakang, harga batu bara masih berada dalam tren naik sejak akhir April.

Memasuki bulan Mei, ekonomi China makin melaju. Banyak juga negara-negara Eropa yang mulai melonggarkan lockdown. Aktivitas ekonomi kembali digeber.

Salah satu indikator kembali dibukanya perekonomian adalah tingkat polusi udara yang sudah naik lagi kembali ke level sebelum masa pandemi.

Mengutip data Center for Research on Energy and Clean Air, tingkat cemaran udara di China mengalami kenaikan. Hal ini tercermin dari kenaikan tingkat polutan seperti NO2, O3, SO2, dan PM 2,5. 

Meningkatnya aktivitas ekonomi di China juga diindikasikan dengan peningkatan batu bara yang dibakar di enam pembangkit terbesar di China.

Peningkatan konsumsi batu bara China membuat stok batu bara Negeri Tirai Bambu menipis.

Baca Juga: Sejarah Tambang Minyak Tradisional Wonocolo

Berdasarkan data Refinitiv Coal Flow, total stok di pelabuhan utama Bohai seperti Caofeidian, Qinhuangdao dan Jingtang di China bagian utara mencapai 12.3 juta ton per 29 Mei 2020 dibandingkan 17.5 juta ton periode yang sama bulan lalu.

Namun dengan realitas ini harga batu bara masih susah reli dan tembus level US$ 60/ton. Ketegangan hubungan antara Australia dengan China menjadi sentimen negatif bagi harga batu bara.