Harga Batu Bara Lesu Tak Bertenaga

Pada Senin (24/2/2020), harga batu bara kontrak lesu tak bertenaga setelah turun sebesar 1,28% ke level US$ 65,75/ton. Sejak 14 Februari 2020, harga batu bara telah terkoreksi sebesar 6,5%.

Harga batu bara kembali ditutup melemah pada perdagangan kemarin, menandai koreksi harga yang terjadi selama enam hari perdagangan berturut-turut.

Sentimen yang masih jadi penggerak utama harga batu bara adalah kasus merebaknya virus corona. Sampai saat ini virus ganas yang mematikan ini telah menginfeksi lebih dari 80. 000 orang di lebih dari 26 negara dan menewaskan hampir 2. 700 orang.

Harga-Batu-Bara-Lesu-Tak-Bertenaga
Harga Batu Bara Lesu Tak Bertenaga

Kasus paling banyak ditemukan di China terutama Provinsi Hubei sebagai pusat lokasi penyebaran virus. Merebaknya wabah penyakit pernapasan akibat virus corona terjadi jelang libur tahun baru imlek dan masih belum dapat dijinakkan sampai sekarang.

Virus corona yang merebak jelang perayaan tahun baru China (Imlek) memang membuat aktivitas perdagangan terganggu. Memang secara musiman, konsumsi batu bara saat libur tahun baru mengalami penurunan saat libur tahun baru. Namun setelah itu biasanya konsumsi akan kembali normal.

Berbeda dengan tren biasanya, virus corona yang menjadi wabah di China membuat konsumsi batu bara di enam pembangkit listrik utama China sampai saat ini masih berada di bawah dari konsumsi harian pada waktu normal.

Baca Juga : Fakta Soal Corona & China yang Buat Harga Batu Bara Drop

Selain itu, faktor lain yang juga menekan harga batu bara adalah kembali beroperasinya perusahaan tambang batu bara China. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Lu Junling selaku kepala departemen batu bara pemerintah China.

Lu mengatakan dalam sebuah konferensi pers kapasitas operasi perusahaan-perusahaan batu bara China telah mencapai 76,5%.

Tiongkok Penyebab Terkoreksinya Harga Batu Bara

Masih rendahnya konsumsi batu bara termal di enam pembangkit listrik utama dan kembali beroperasinya tambang batu bara Tiongkok membuat harga batu bara terkoreksi.

Saat ini China tengah meninjau berbagai data yang menunjukkan berbagai aktivitas perindustriannya untuk basis kebijakan dalam memberikan stimulus bagi perekonomiannya yang kini sedang terkena musibah wabah COVID-19.

Reuters melaporkan, para analis memperkirakan dampak virus corona terhadap perekonomian Negeri Panda berpotensi memangkas angka pertumbuhan PDB China lebih dari 1 persen poin pada 2020 dan konsumsi listrik diramal turun 1,5%.

Sektor tenaga listrik China masih didominasi oleh sumber energi dari batu bara. Porsinya sekitar 60%. Jika permintaan terhadap listrik turun, ada potensi besar permintaan terhadap batu bara juga turun.

Sentimen lain yang juga menekan harga batu bara juga datang dari Jepang. Menteri Lingkungan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan pada hari Selasa bahwa pihaknya telah sepakat dengan kementerian lain termasuk kementerian industri dan kementerian keuangan untuk meninjau kembali kondisi ekspor pembangkit listrik tenaga batu bara pada akhir Juni nanti.

Langkah ini diambil menyusul kritik atas dukungan pemerintah Jepang untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu bara di negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam serta peluncuran pembangkit baru di Jepang, melansir Reuters. 

Dua sentimen di atas kembali menjadi pemberat pergerakan harga batu bara yang sudah tertekan menjadi semakin tertekan.