Harga Batu Bara Feeling Good

Harga Batu Bara Feeling Good

Harga Batu Bara 'Feeling Good'
Harga Batu Bara Feeling Good

Selama sepekan ini harga batu bara berada dalam kondisi yang cerah. Harga batu bara terus mencatatkan kinerja positif.

Tercarat, batu bara termal acuan Newcastle ditutup dalam keadaan naik pada sesi perdagangan terakhir.

Kendati fundamental belum kokoh, potensi ini dinilai akan terus terjadi, diimbangi faktor teknikal.

Pada Kamis (27/8/2020), harga batu bara untuk kontrak yang aktif ditransaksikan ditutup menguat 0,9% ke US$ 50,45/ton.

Harga batu bara kembali ke level US$ 50/ton setelah sebelumnya ambles ke level terendah dalam empat tahun terakhir.

Pasar batu bara sudah  harga batu bara yang sudah tergerus lama, wajar saja jika mengalami rebound teknikal.

Namun pada dasarnya fundamental di pasar masih belum bisa dikatakan membaik.

Permintaan impor dari berbagai negara konsumen terbesarnya seperti China, India dan Jepang masih lemah.

Apalagi ditambah dengan adanya tren kenaikan pangsa pasar energi terbarukan sebagai pengganti batu bara. 

Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang, impor batu bara termal Negeri Sakura tercatat mencapai 8,9 juta ton di bulan Juli atau turun 14% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara jika dilihat pada periode Januari-Juli total impor batu bara Jepang mencapai 62,1 juta ton atau turun 3,6% dibanding periode yang sama tahun 2019.

Impor batu bara Jepang dari Rusia dan Indonesia cenderung flat tahun ini.

Itu artinya impor dari Australia dan Amerika Utara mengalami penurunan yang lebih dalam.

Lemahnya permintaan terhadap sektor pembangkit listrik semasa wabah Covid-19 merebak permintaan terhadap bahan bakar fosil pun turun.

Bahkan ketersediaan sumber energi alternatif seperti nuklir pun turun karena adanya perawatan (maintenance) serta upgrade.

Ini lah yang menjadi faktor pemicu anjloknya harga batu bara saat ini.

Impor batu bara Negeri Panda sempat jor-joran. Kini impor China pun mulai ditahan.

Di saat China menahan impornya, seperti Jepang yang juga tak bisa diharapkan banyak.

Di tengah lesunya permintaan, kabar buruk juga datang dari India.

Reuters melaporkan, India berencana untuk secara signifikan mengurangi impor batu bara termalnya dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: Urgensi Hilirisasi Komoditas Batu Bara

Ini dilakukan untuk menghemat devisa dan menciptakan lapangan kerja melalui pengembangan blok batu bara yang ada dan yang baru.

Batu bara adalah salah satu dari lima komoditas teratas yang diimpor oleh India, konsumen terbesar dunia, importir dan produsen bahan bakar setelah China.

Melihat realita ini, kenaikan harga batu bara pada akhirnya belum bisa banyak dan belum mencerminkan perbaikan fundamentalnya.