Great Sale di Saham Tambang Tahun Ini

Kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian akan berakibat pada penurunan permintaan komoditas yang berujung pada melemahnya harga.

Harga saham dan kinerja fundamental perusahaan tambang di Bursa Efek Indonesia mayoritas tertekan selama tahun berjalan. Perlambatan ekonomi global menjadi salah satu katalis yang membuat harga saham tambang jatuh dan menjadi “relatif murah”.

Saham dikatakan mahal (overvalued) ketika PER-nya lebih besar dibanding PER industri. Sebaliknya emiten disebut relatif murah (undervalued) ketika nilai PER-nya lebih rendah dibanding PER industri. Perlu diingat, jika perusahaan mencatatkan kerugian, maka PER tidak dapat dihitung.

PER adalah salah satu bentuk analisis fundamental dengan cara membagi harga saham saat ini dengan keuntungan tahunan per saham. Perhitungan ini mengimplikasikan berapa harga yang bersedia dibayarkan oleh pasar hari ini berdasarkan perolehan pendapatan perusahaan.

Baca juga: Pesimisme Kesepakatan AS-China Minyak Dunia Melemah

Merujuk pada pengelompokan emiten pertambangan, Bursa Efek Indonesia membaginya dalam beberapa kategori, termasuk batu bara, minyak & gas, serta logam & mineral.

Klasifikasi Perusahaan Tambang Batu Bara

Untuk klasifikasi perusahaan tambang batu bara, emiten yang harga sahamnya relatif murah dibandingkan peer-nya adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan perolehan PER masing-masing 3,55 kali dan 4,28 kali. Pasalnya, rerata angka PER untung emiten batu bara adalah 16,91 kali.

Tidak hanya itu, emiten penambang batu bara besar lainnya seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga terbilang cukup terjangkau.

Sedangkan penambang batu bara yang harga sahamnya relatif mahal adalah PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) dan PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) dengan nilai PER masing-masing 132,16 kali dan 110,68 kali.

Kemudian, untuk kategori perusahaan minyak dan gas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) masih cocok untuk dikoleksi karena harga sahamnya undervalued. Berbeda degan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) dan PT Super Energy Tbk (SURE) yang terbilang overvalued alias mahal.

Terakhir adalah kelompok penambang logam dan mineral. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memiliki harga saham yang tergolong cukup tinggi dibandingkan dengan kinerja keuangan perusahaan.

Lain halnya dengan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang masih sangat terjangkau.