General Electric Stop Garap Bisnis PLTU

General Electric Stop Garap Bisnis PLTU

General Electric Stop Garap Bisnis PLTU
General Electric Stop Garap Bisnis PLTU

Perusahaan besar Amerika Serikat penggarap mesin-mesin penggerak generator General Electric (GE) memutuskan untuk berhenti dari bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.

Secara khusus bisnis PLTU dirapa oleh anak usaha perusahaan GE, yakni GE Steam Power.

GE menyampaikan pernyataan melalui Wakil Presiden Senior GE dan CEO GE Power Portofolio Russel Stokes bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pihak pelanggan untuk mencapai komitmen baru.

Komitmen baru yang coba dicapai antara lain, divestasi, penutupan lokasi, dampak pekerjaan, dan pertimbangan untuk anak usaha yang sebagian sahamnya dimiliki publik.

“GE akan seterusnya fokus dalam bisnis teknologi pembangkit dan perangkat energi terbarukan dengan tujuan untuk menjadikan listrik lebih terjangkau, andal, mudah akses, dan berkelanjutan,” papar Russel.

Russel menjabarkan PLTU yang sebelumnya berencana menggunakan peralatan dari GE adalah PLTU Tanjung Jati A (Jawa 3) di Cirebon dengan kapasitas 1.320 MW dan PLTU Tanjung Jati A. Untuk PLTU Tanjung Jati A sendiri masih dalam perencanaan dan prosesnya masih tertunda.

“Proyek itu merupakan konsorsium antara PT. Bakrie & Brothers Tbk dan YTL Jawa Energy BV dengan kepemilikan masing-masing perusahaan sebesar 20 persen dan 80 persen,” tutur Russel.

Sebagai informasi, GE merupakan perusahaan multinasional energi yang tercatat di Bursa Saham New York (NYSE). Perusahaan tersebut berada di New York, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, sejumlah perusahaan jasa keuangan raksasa asal Jepang menyetop membiayai pembangunan PLTU batu bara di Indonesia.

Dua perusahaan itu adalah Mizuho dan Japan’s Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG).

Pihak Mizuho mengaku akan menyetop penyaluran kredit bagi pembangunan proyek baru PLTU batu bara mulai Rabu (15/4).

Selain itu, Mizuho juga akan memangkas saldo kredit untuk sektor pembangkit listrik bertenaga batu bara sebesar 300 miliar yen atau setara US$2,8 miliar pada 2030.

Baca Juga: Industri Batu Bara dan Listrik Nasional

Pembiayaan Mizuho pada PLTU batu bara akan berhenti total pada 2050 nanti.

Sementara itu, SMFG menyatakan tidak akan mengalirkan pinjaman kepada proyek PLTU batu bara baru mulai 1 Mei.

SMFG menyatakan mereka akan secara proaktif mendukung teknologi ramah lingkungan.