Gasifikasi Batu Bara Berpotensi Mundur

Gasifikasi Batu Bara Berpotensi Mundur

Gasifikasi-Batu-Bara-Berpotensi-Mundur
Gasifikasi Batu Bara Berpotensi Mundur

Upaya meningkatkan nilai tambah batu bara melalui proyek gasifikasi berpotensi mundur sebab pandemi Covid-19 belum terlihat membaik.

Emiten tambang milik pemerintah yang memegang proyek gasifikasi  PT. Bukit Asam Tbk, masih mengevaluasi kinerja dan waktu penyelesaian proyek tersebut 

Sekertaris Perusahaan Bukit Asam Hadis Surya mengatakan bahwa perseroan tengah mengevaluasi secara keseluruhan rencana proyek gasifikasi batu bara akibat pandemi Covid-19. Sebelumnya, pabrik ini diharapkan dapat beroperasi di akhir 2023.

“Akibat Covid-19 rencana ini berpotensi jadi mundur dan sekalian dievaluasi untuk prioritasnya. Jadi, bisa DME atau bisa juga Methanol yang duluan dikerjakan,” ujar Hadis

Kendati demikian, Hadis belum mau menjelaskan secara terperinci faktor dan detail penundaan proyek penghiliran batu bara yang bekerja sama dengan Air Products tersebut.

Adapun, total investasi antara emiten berkode saham PTBA itu dan Air Products untuk pengembangan gasifikasi ini adalah US$3,2 miliar.

Nantinya, Air Products bertindak sebagai investor di bisnis Upstream dan Downstream.

Gasifikasi ini akan mengkonversi batubara muda menjadi syngas untuk kemudian diproses menjadi Dimethyl Ether (DME), Methanol, dan Mono Ethylene Glycol (MEG).

Proyek penghiliran batu bara ini direncanakan akan memproduksi 1,4 juta ton DME, 300.000 ton Methanol, dan 250.000 ton MEG.

Baca Juga: Proyeksi Kinerja Batu Bara Kuartal II

Saat ini studi kelayakan sudah selesai dan masuk ke tahap FEED dan EPC.

Pembangunan gasifikasi ini akan dilakukan di kawasan Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone (BACBSEZ) Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Nantinya, DME hasil hilirisasi ini dapat digunakan sebagai bahan baku LPG, sehingga dapat mengurangi impor gas untuk LPG.