Gairah Ekonomi Pertambangan Melesu

Gairah Ekonomi Pertambangan Melesu

Gairah-Ekonomi-Pertambangan-Melesu
Gairah Ekonomi Pertambangan Melesu

Mengacu pada data Refinitiv, impor batu bara Korea Selatan dan Jepang hingga akhir Maret masing-masing sebesar 7,8 juta ton dan 13,1 juta ton.

Volume impor tersebut jauh lebih rendah dari pada periode yang sama tahun lalu untuk Korea Selatan sebesar 9,7 juta ton dan Jepang 14,9 juta ton.

Kemarin, harga batu bara kontrak berjangka kompak ditutup melemah baik batu bara acuan Australia maupun Indonesia.

Walaupun perekonomian China perlahan pulih, tetapi pandemi COVID-19 yang masih merebak membuat permintaan batu bara di kawasan Cekungan Pasifik ikut terdampak.

Selasa (31/3/2020), harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle (6.000 Kcal/kg) melorot 2,61% ke level US$ 67,1/ton.

Batu bara termal Australia banyak di ekspor ke negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang. Namun impor kedua negara ini pada bulan Maret mengalami penurunan.

Baca Juga: RI Didorong Beralih Ke Energi Terbarukan

Pada masa transisi musim bulan April ke Mei, permintaan pemanas akan menurun. Ditambah dengan adanya kekhawatiran pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung. Hal ini masih jadi risiko jangka pendek untuk permintaan batu bara di kawasan Cekungan Pasifik.

Sementara itu di saat yang sama harga batu bara kontrak futures Indonesia yang berkalori rendah (4.200/Kcal/kg) juga turun 3,27% ke level US$ 31,5/ton dan menjadi harga terendah untuk kuartal pertama tahun ini.

Faktor Penurunan Harga Batu Bara

Salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan harga batu bara berkalori rendah ini adalah lockdown di India.

Data Refinitiv menunjukkan, impor batu bara India pada bulan Maret sebesar 14,2 juta ton.

Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya impor mencapai 19,4 juta ton.

India banyak mengimpor batu bara dari Indonesia untuk kebutuhan pembangkit listrik mereka. Dengan adanya lockdown, permintaan akan listrik terutama untuk sektor industri akan turun.

Reuters melaporkan, India menggunakan 2,59 miliar unit listrik pada 27 Maret atau pada hari ketiga lockdown nasional.

Angka ini jauh lebih rendah ~25% dibandingkan dengan konsumsi rata-rata selama tiga minggu pertama bulan Maret sebelum lockdown diberlakukan.

Konsumsi listrik di negara bagian Maharashtra dan Tamil Nadu untuk sektor manufaktur mobil mengalami penurunan penggunaan daya hingga 26%.

Sementara negara bagian Gujarat di bagian barat mengalami penurunan 43% dibandingkan dengan rata-rata tiga minggu pertama.