Freeport Rogoh Rp 5 Triliun Untuk Tutup Tambang

Freeport Rogoh Rp 5 Triliun Untuk Tutup Tambang

Freeport Rogoh Rp 5 Triliun Untuk Tutup Tambang
Freeport Rogoh Rp 5 Triliun Untuk Tutup Tambang

Bila tambang nantinya akan ditutup pada 2041, PT. Freeport Indonesia (PTFI) akan mengeluarkan dana sekitar US$ 350 juta atau sekitar Rp. 5,14 triliun (asumsi kurs Rp. 14.700 per US$).

Perusahaan juga harus menyetor uang jaminan secara bertahap untuk memastikan penutupan tambang ini sesuai dengan kaidah aturan berlaku.

Meski saat ini perusahaan masih mengembangkan tambang bawah tanah dan kontrak baru akan berakhir pada 21 tahun mendatang, namun mereka sudah menyiapkan dokumen rencana penutupan tambang.

Walaupun izin berakhir pada 2041, perusahaan harus menyiapkan dokumen ini sejak jauh-jauh hari dan disetujui oleh Pemerintah Indonesia.

Dengan biaya penutupan tambang US$ 350 juta (sekira Rp. 5,14 triliun dengan asumsi kurs Rp. 14.700 per US$).

Untuk itu sudah ada jaminan bank yang harus disampaikan secara bertahap.

Dengan perubahan Kontrak Karya (KK) menjadi IUPK ada beberapa hal yang berubah, salah satunya besaran pajak yang naik tajam.

Pemerintah Indonesia mendulang pendapatan besar, di mana kontribusi untuk negara mencapai 60-70%.

Meski IUPK selesai pada 2041, namun cadangan tembaga di Freeport masih bisa sampai 2052.

Freeport menegaskan tak akan melakukan eksplorasi lanjutan, hanya melakukan eksplorasi minimal.

Hal ini dikarenakan izin Freeport akan berakhir pada 2041 dan untuk menambah confidence dari cadangan yang sudah ada.

Baca Juga: Urgensi Energi Terbarukan dalam RUPTL 2020-2029

Kenapa tak ingin eksplorasi, walau sumber daya ada 2 miliar? jadi potensi ada, tapi kita tak lakukan karena izin sampai 2041. Budget eksplorasi tak dilakukan, hanya eksplorasi minimal.

Freeport memperkirakan produksi tembaga pada tahun ini hampir 800 juta pon dan emas 820 ribu ons.

Pada 2022 produksi diperkirakan naik menjadi 1,6 miliar pon tembaga dan 1,6 juta ons emas.