Freeport Indonesia Tunda Proyek Besar

Freeport Indonesia Tunda Proyek Besar

Freeport Indonesia Tunda Proyek Besar
Freeport Indonesia Tunda Proyek Besar

Pandemi Covid-19 menjadi hambatan bagi beberapa proyek pertambangan.

Penundaan menjadi pilihan bagi perusahaan sebagai upaya menjaga protokol kesehatan. Juga sebagai jalan alternatif yang ditempuh dalam efisiensi biaya produksi.

Freeport Indonesia memutuskan menunda pengerjaan tiga proyek besar dengan investasi triliunan rupiah.

Sebab, jumlah pekerja harus dibatasi selama pandemi corona.  Kegiatan operasional pertambangan Freeport juga terganggu karena jumlah karyawan dibatasi.

Akibatnya tiga proyek besar yang tertunda yaitu pembangunan Semi Autogeneous) Mill (SAG) atau mesin pengolah biji tambang yang bernilai US$ 300 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Selain itu, proyek pembangkit listrik di kawasan Pelabuhan Portsite Amamapare, serta pembangunan pabrik smelter di Gresik, Jawa Timur. 

Kegiatan Freeport tetap berjalan. Meskipun, jumlah pekerja dibatasi untuk menghindari penyebaran virus corona. 

Total karyawan yang dipulangkan mencapai 400 orang. Yang sudah pulang sekitar 300-an sejak bulan lalu.

Perusahaan menawarkan cuti sementara waktu karena kalau mereka tetap berada di Tembagapura maka akan sangat rawan terpapar Covid-19.

Termasuk yang dipulangkan yaitu keluarga karyawan yang tidak bekerja.

Untuk menjaga proses produksi tetap berjalan normal, Freeport berusaha terus mengoperasikan truk trailer pengangkut logistik.

Meskipun jumlah truk trailer yang beroperasi sangat jauh berkurang dari sebelumnya sekitar 100 per hari, menjadi 20-an per hari.  

Kendaraan tersebut mengangkut bahan makanan hingga suku cadang kendaraan tambang dari wilayah dataran rendah (Pelabuhan Portsite Amamapare hingga Kuala Kencana) ke wilayah dataran tinggi (Tembagapura hingga lokasi tambang Grasberg). 

Orang-orang khusus seperti operator truk trailer itu penting sekali karena mereka yang mengangkut logistik ke Tembagapura sehingga sekitar 25 ribu karyawan yang ada di Tembagapura bisa tetap mendapatkan suplai bahan makanan secara lancar, dan bengkel-bengkel peralatan tambang tetap mendapatkan suku cadang dan lainnya.

Baca Juga: Perusahaan Tambang Terbesar Dunia Mulai Alihkan Bisnis Batu Bara

Pandemi corona membuat sejumlah perusahaan subkontraktor Freeport mengurangi pekerja.

Sebab, Freeport tidak melanjutkan kontrak kerja. Sedangkan untuk karyawan permanen Freeport yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti gangguan jantung, paru-paru, dan lainnya juga diberikan kesempatan untuk cuti sementara waktu di daerah asalnya.