ESDM Dorong Pengembangan Industri DME

ESDM Dorong Pengembangan Industri DME

ESDM-Dorong-Pengembangan-Industri-DME
ESDM Dorong Pengembangan Industri DME

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM terus berupaya menggairahkan berkembangnya industri pengolahan Demethyl Ether (DME).

Ini dilakukan sebagai bagian dari hilirisasi batubara sekaligus substitusi bahan bakar Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyampaikan, sebenarnya DME dapat dihasilkan dari berbagai sumber energi.

Bila dilihat dari kondisi sekarang, batubara kalori rendah menjadi sumber energi paling ideal untuk pengembangan DME.

Ini mengingat sumber daya dan cadangan batubara kalori rendah di Indonesia cukup melimpah, yakni sekitar 20 miliar ton.

Menurut Dadan, untuk mengganti impor LPG sebanyak 1 juta ton, maka dibutuhkan DME sebanyak 500.000 ton.

Lantas, untuk memasok DME sebanyak itu, maka perlu pasokan batubara sebesar 6 juta ton per tahun.

Selain jumlahnya banyak, penggunaan batubara kalori rendah sebagai bahan baku DME dilakukan agar komoditas ini lebih jelas peruntukannya.

“Sejauh ini kita punya banyak batubara kalori rendah yang belum jelas penggunaannya. Kalau dipasok ke pembangkit listrik, spesifikasinya kurang. Makanya ini dialihkan untuk kebutuhan DME,” ungkap Dadan dalam jumpa pers virtual, Rabu (22/7).

Saat ini, sudah ada PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) yang berkomitmen membangun pabrik pengolahan DME di Tanjung Enim.

PTBA turut bersinergi dengan PT. Pertamina (Persero) sekaligus menggandeng Air Product & Chemicals Inc asal Amerika Serikat dalam menggarap proyek senilai US$ 3,2 miliar tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Dorong Batu Bara untuk Bahan Baku Gas

Proyek ini pun ditargetkan selesai di akhir tahun 2023. Diharapkan, pabrik DME tersebut dapat memproduksi 1,4 juta ton DME di tiap tahun.