Energi Co-Firing Masuki Fase Komersial

Energi Co-Firing Masuki Fase Komersial

Energi Co-Firing Masuki Fase Komersial
Energi Co-Firing Masuki Fase Komersial

Industri energi baru terbarukan naik satu tahap ke komersialisasi.

Pemanfaatan biomassa (Co-Firing) yang dimotori PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB) melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), kini mulai memasuki tahap komersialisasi.

Fase komersial untuk Co-Firing ini segera diimplementasikan PJB dalam uji coba di 4 PLTU, setelah sebelumnya sukses diujicobakan di 11 PLTU.

“Khusus untuk PLTU Paiton, saat ini sudah memasuki fase komersial. Berikutnya kami uji coba di PLTU Bolok, PLTU Tembilahan, PLTU Pulang Pisau dan PLTU Bangka,” ungkap Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan PT. PJB, Ardi Nugroho pada Webinar yang mengangkat tema ‘Efektivitas dan Potensi Biomassa Program Co-Firing Pembangkit’ yang digelar PT PJB.

Hanya saja, kata Ardi, untuk mendorong pemanfaatan biomassa untuk CoFiring tersebut masih terbentur kendala, terutama pada pembangkit biomassa berskala besar.

Masalahnya, ketersediaan supply raw material biomassa yang relatif masih kurang.

“Sejak GoLive CoFiring Biomassa pada 10 Juni 2020, sampai dengan saat ini, di unit pembangkitan Paiton saja total penggunaan serbuk kayu mencapai lebih dari 3.800 ton dengan total energi hijau yang dibangkitkan tidak kurang dari 4000 MWH,” ingat Ardi.

Dijelaskan, serbuk kayu (sawdust) merupakan biomassa yang memiliki sumber alami, seperti yang digunakan di PLTU Paiton 1-2 dengan bahan baku dari limbah industri kayu.

Sehingga, biomassa serbuk kayu, termasuk carbon neutral, tidak menambah jumlah karbon di udara.

Baca Juga: Asal Muasal Terbentuk Batu Bara

”Kalau ditinjau dari aspek lingkungan Inovasi Implementasi Co-firing Biomassa Serbuk Kayu di PLTU Paiton, sebenarnya mampu menurunkan Baku Mutu Emisi dan mendukung bauran energi EBT,” tukasnya dalam Webinar bersama jurnalis media Jawa Timur.