Energi Baru Terbarukan Masih Mahal, Batu Bara Pilihan?

“Pembangkit biayanya cuma Rp 300 perak kalau pakai batu bara. Pakai gas cuma Rp 1.000. Pakai EBT itu bisa Rp 2-3 ribu per seribu kalori,” papar Budi.

Budi juga menyoroti teknologi yang dilakukan dalam penggunaan energi baru terbarukan. Menurutnya, semua teknologi masih diimpor. Dia khawatir Indonesia hanya jadi pasar impor.

Pengamat energi dari lembaga Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) pesimis dengan penggunaan energi baru terbarukan. Direktur Cirrus Budi Santoso menilai batu bara masih jadi pilihan energi yang paling tepat.

Budi menilai batu bara adalah energi paling murah dan efektif yang bisa digunakan di Indonesia.

“Nggak usah genit-genit lah kita pakai EBT (energi baru terbarukan). Sudah lah kita pakai yang termurah saja,” kata Budi dalam diskusi refleksi akhir tahun sektor energi dan sumber daya mineral di Ruang GBHN, Gedung MPR, Jakarta, Kamis (26/12/2019).

Baca Juga : Sektor Pertambangan Masih Sempoyongan Tahun 2020

Dia memaparkan perbandingannya, dengan batu bara biaya energi untuk pembangkit hanya Rp 300 saja per seribu kalori. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan biaya energi-energi terbarukan yang menurutnya bisa menyentuh angka Rp 3 ribu.

“EBT juga itu sampai hari ini semua teknologinya bukan punya kita. Itu semua impor, ini kita cuma jadi pasar, ini yang sebenarnya kita harus kritisi,” kata Budi.

Soal lingkungan, menurutnya ada penelitian di Amerika Serikat yang menyebutkan kalau hasil pembakaran batu bara tidak memicu perubahan iklim.

“Mau bicara lingkungan kita berdebat siap. Kayak tadi white paper Amerika. CO2 itu nggak climate change. Teorinya semakin banyak manusia semakin banyak pohon dan makanan, semua butuh CO2,” sebut Budi.

Sumber : Detik Finance