Emiten Tambang Emas Ambil Untung dari Konflik AS-Iran

Konflik AS-Iran telah membuat investor pasar saham panik dan beralih ke instrumen safe haven seperti emas. Konflik AS-Iran memberikan keuntungan pada perusahaan tambang emas. Konflik ini telah membuat investor pasar saham panik dan beralih ke instrumen safe haven seperti emas.

Sekretaris Perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Adi Adriansjah Sjoekri mengakui perusahaannya mendapatkan dampak yang sangat baik akibat adanya perang tersebut. Meskipun demikian, Adi mengatakan pihaknya tetap tak bisa mengendalikan harga. MDKA, lanjut Adi, akan tetap mengupayakan efisiensi biaya operasional di angka US$600 per oz.

Usai AS menyerang Iran, sejak 6 Januari 2020. Harga emas di Logam Mulia ANTAM naik Rp783.000 dari Rp774.000 pada 4 Januari 2020. Harga emas sempat menyentuh level tertingginya di angka Rp799.000 pada 8 Januari 2020.

Adi melanjutkan, tahun 2020 perseroannya pun akan meningkatkan kapasitas produksi dari 4 juta ton per tahun pada 2019, menjadi 8 juta ton per tahun pada 2020.

Baca Juga : Awali Pekan, Harga Emas Kehilangangan Kilau

Adapun untuk belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2020, Adi mengatakan pihaknya belum bisa menjelaskan lebih lanjut berapa rinciannya. Yang pasti, capex tahun 2020, lanjut Adi, akan digunakan untuk studi porfiri untuk pengembangan deposit MDKA.

Komisaris Independen MDKA Baru

Sementara itu, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) MDKA hari ini menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris. Budi Bowoleksono menjadi Komisaris Independen MDKA menggantikan Mahendra Siregar dan Sakti Wahyu Trenggono yang telah mengundurkan diri, setelah bergabung di Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Masing-masing menjadi Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dan Wakil Menteri Pertahanan Republik lndonesia.

Corporate Secretary MDKA Adi Adriansyah Sjoekri mengatakan bergabungnya Budi Bowoleksono sebagai komisaris independen dengan pengalamannya sebagai diplomat senior akan memperkuat kinerja dan mempercepat akselerasi bisnis yang terus dilakukan perusahaan.

Selain menyetujui pergantian komisaris, pemegang saham juga menyetujui rencana penambahan modal ditempatkan dan disetor MDKA melalui mekanisme PUT II atau rights issue dan PMTHMETD atau private placement, sehubungan dengan telah berlakunya nilai nominal baru atas saham perseroan yang merupakan hasil stock split.

Adi melanjutkan, perubahan jumlah saham baru yang akan diterbitkan melalui right issue dan private placement ini tidak mengubah total nominal nilai saham yang dialokasikan dan telah disetujui pemegang saham pada RUPSLB, tanggal 11 Maret 2019 lalu.

Menurut Adi, penegasan dan pernyataan kembali ini merupakan konsekuensi dari stock split yang telah dilakukan MDKA pada awal kuartal IV-2019. Sehingga nilai nominal saham perseroan berubah dari Rp100 menjadi Rp20 per lembar saham.