Emiten Big Cap 2020

Emiten-emiten berkapitalisasi besar atau Big Cap yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini tetap berekspansi secara moderat. Mereka optimistis tahun 2020 adalah waktu yang tepat untuk ekspansi karena perekonomian global dan domestik lebih kondusif. 

Emiten big cap yang memutuskan untuk tetap berekspansi tahun ini di antaranya PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

 Langkah serupa ditempuh PT Indika Energy Tbk (INDY), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Direktur Keuangan Telkom Harry M Zen Jakarta, Senin (6/1), mengungkapkan, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/ capex) tahun ini berkisar 25-26% dari total pendapatan.

“Sumber pendanaan capex merupakan kombinasi antara kas internal dan pinjaman ekternal,” kata dia.

Emiten yang tetap ekspansif Rasio capex tersebut, menurut Harry, sedikit lebih kecil disbanding pada 2019 yang mencapai 27% terhadap pendapatan. “Tahun lalu, kami menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar mid to high single digit atau di kisaran 5-9%,” tutur dia. Dia menambahkan, pada 2019 anggaran capex Telkom sekitar Rp 37 triliun.

Hingga September 2019, emiten pelat merah itu telah menyerap capex sebesar Rp 22,13 triliun. “Untuk proyeksi pertumbuhan pendapatan di 2020 juga masih di level mid to high single digit. Kontribusi terbesar tetap dari Telkomsel, yakni 60-65% dari total pendapatan Telkom Group,” papar dia Kontribusi pendapatan selanjutnya, kata Harry M Zen, akan berasal dari segmen bisnis enterprises dan consumer, yang masing-masing sebesar 13-15%. Indika Energy.

Emiten-Big-Cap-2020
Emiten Big Cap 2020

Secara terpisah, Head of Corporate Communication Indika Energi Leonardus Herwindo menjelaskan, perseroan menganggarkan capex US$ 146 juta. Sebagian besar capex tersebut akan digunakan untuk operasional anak usaha, PT Petrosea Tbk (PTRO). Dia mengakui, angka tersebut jauh di bawah anggaran capex 2019 yang mencapai US$ 315 juta.

Rencana Capex Tahun 2020

Sampai saat ini, perseroan masih menghitung realisasi dari penyerapan capex sepanjang tahun lalu. Menurut Leonardus, rencana capex 2020 disesuaikan dengan volatilias harga dan kondisi pasar batu bara yang masih bergerak dinamis serta efektivitas operasional perusahaan. 

Tahun ini, kata dia, industri batu bara kemungkinan penuh tantangan. “Harga batu bara diperkirakan masih mengalami fluktuasi dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal, seperti dinamika supply-demand, perekonomian global, hingga politik dagang,” ujar dia. 

Selain itu, situasi dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk harga minyak dunia, turut memengaruhi harga batu bara global. “Ini tentu berpengaruh pada strategi dan rencana operasional perseroan pada 2020,” tandas dia. 

Leonardus mengemukakan, untuk target produksi, Indika Energy tetap optimistis prospek dan fundamental industry batu bara masih baik, walaupun volatilitas harganya berlanjut. Itu sebabnya, menurut dia, perseroan fokus menjaga stabilitas keuangan dan mengelola operasi usaha melalui peningkatan produktivitas, pengendalian biaya, dna stabilitas operasi agar semakin kompetitif.

Pada 2020, Indika Energy menargetkan produksi batu bara sebanyak 30,95 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29,65 juta ton berasal dari anak usaha, PT Kideco Jaya Agung. Sekitar 1,3 juta ton lainnya dari produksi PT Multi Tambangjaya Utama. Grup Barito Salah satu pabrik Grup Barito Pacific. 

Emiten-Big-Cap-2020
Emiten Big Cap 2020

Di sisi lain, Barito Pacific mengalokasikan capex secara konsolidasi sebesar US$ 536 juta pada 2020. Mayoritas capex akan diserap anak usaha, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), untuk mulai membangun pabrik CAP 2 yangditaksir menelan investasi sekitar US$ 5 miliar.

Barito Pacific

Berdasarkan catatan, Barito Pacific menganggarkan capex 2019 hingga US$ 560 juta. Namun, perseroan masih menghitung apakah alokasi tersebut terserap maksimal atau tidak pada 2019. Menurut Investor Relations Barito Pacific Allan Alcazar, dari total capex 2020, sebanyak US$ 430 juta dialokasikan untuk capex Chandra Asri, US$ 88 juta untuk Star Energy Group Holdings Pte, dan US$ 18 disalurkan untuk PT Griya Idola.“Sumber pendanaan capex berasal dari kas internal masing-masing anak usaha. Chandra Asri dan Star Energy masih punya kas yang cukup,” ucap dia. 

Allan mengungkapkan, Chandra Asri akan membangun pabrik CAP 2 di Cilegon, Banten dengan terlebih dahulu membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama CAP Perkasa. Perseroan masih menjajaki sejumlah mitra strategis yang potensial. “Untuk mitra strategis, di short list Chandra Asri sudah ada dua perusahaan dari semula empat perusahaan. Tapi belum bisa disebutkan detailnya,” tutur dia. Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten.

Dalam jadwal master proyek CAP 2, pabrik ini direncanakan berkapasitas 125% dari kapasitas CAP 1. Setelah proses seleksi investor strategis rampung, perseroan akan melanjutkan ke tahap rencana pembiayaan beserta engineering, procurement and construction (EPC) bidding pada kuartal II-2020. Pada tahap terakhir, perseroan akan masuk proses persetujuan final investment decision (FID), termasuk financial close pada kuartal IV-2020, selanjutnya masuk ke proses pekerjaan EPC.

Secara keseluruhan, pabrik CAP 2 ditargetkan beroperasi mulai semester I-2024. Chandra Asri juga bakal menggalang dana sebagai salah satu sumber ekspansi melalui penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue hingga 7,16 miliar saham.

“Target dana dari rights issue juga belum ditetapkan, karena masih akan melewati persetujuan pemegang saham pada 5 Februari 2020,” kata Allan. Allan Alcazar menambahkan, untuk divisi bisnis geothermal, Star Energy akan menggunakan US$ 11 juta dari total belanja modalnya untuk eksplorasi pada wilayah kerja Hamiding di Halmahera Barat, Maluku.

Baca Juga : Fokus Hilirisasi, Inalum akan Rampungkan Proyek Prestisius

Selain itu, sebanyak US$ 30 juta untuk keperluan drilling. Sebagian capex juga akan diserap untuk keperluan overhaul. “Pada Griya Idola, sebanyak US$ 15 juta dari total capex mereka digunakan untuk menyelesaikan pembangunan gedung Wisma Barito Pacific II,” ujar dia.

Bukit Asam Aktivitas di tambang Bukit Asam. Di pihak lain, Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman di Jakarta, Senin (6/1), mengungkapkan, tahun ini perseroan mengalokasikan capex Rp 4 triliun. Angka itu lebih rendah dari proyeksi capex 2019 sebesar Rp 5 triliun. Rendahnya belanja modal tahun ini, menurut Suherman, terjadi karena perseroan sudah mengalokasikannya untuk proyek baru pada 2019. 

Sedangkan pengembangan proyek baru akan dilakukan lagi pada 2021. “Jadi, capex 2020 lebih untuk capex pengembangan dan capex rutin,” tutur dia. Bukit Asam berencana menggunakan capex untuk sejumlah proyek, seperti gasifikasi batu bara, pengembangan angkutan batu bara, dan PLTU Sumsel-8. “Capex juga akan digunakan untuk anak perusahaan dan pengembangan yang lain,” kata dia. Dia menjelaskan, pada 2019 Bukit Asam memproses pembangunan dua proyek PLTU di kawasan Muara Enim dan Halmahera Timur. 

Kedua proyek tersebut menelan investasi US$ 2,03 miliar. PLTU pertama yang sedang dibangun, menurut Suherman, adalah PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 di Muara Enim. PLTU ini dibangun PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) yang merupakan konsorsium Bukit Asam dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. Proyek ini menelan investasi US$ 1,68 miliar yang didanai Exim Bank of China. 

Bukit Asam juga bekerja sama dengan PT Antam Tbk (ANTM) untuk membangun PLTU Feni di Halmahera Timur. Proyek pembangkit listrik ini berkapasitas 3×60 MW untuk PLTU dan 3×17 MW untuk PLTD.

Joint Venture Company

Selanjutnya, kata Suherman, akan dibentuk joint venture company antara Bukit Asam dan Antam untuk membangun pembangkit listrik tersebut. “Proyek PLTU ini menelan investasi US$ 350 juta yang pendanaannya bisa dari perbankan,” ucap dia. Selain proyek pembangkit listrik, Bukit Asam menyiapkan proyek hilirisasi batu bara di Peranap (Riau) dan Tanjung Enim (Sumatera Selatan). Bukit Asam menggandeng Pertamina selaku off taker dimethyl ether (DME) dan Air Products selaku pemilik teknologi gasifikasi batu bara untuk proyek hilirisasi di Peranap.

“Untuk proyek hilirisasi di Tanjung Enim, Bukit Asam menggandeng Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA),” papar dia. Suherman mengatakan, untuk menunjang angkutan batu bara, Bukit Asam mengembangkan proyek angkutan batu bara jalur kereta api dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Melalui proyek pengembangan ini, perseroan berharap bisa mengangkut batu bara hingga 60 juta ton per tahun pada 2023. Kendati belanja modal tahun ini lebih rendah, kata dia, perseroan tetap berharap bisa menggenjot produksi yang lebih tinggi tahun ini. Bukit Asam menargetkan produksi batu bara pada 2020 sebanyak 30 juta ton. Pada 2019, Bukit Asam menargetkan produksi batu bara 27,26 juta ton, naik 3% dari realisasi tahun sebelumnya 26,36 juta ton. Sedangkan target angkutan batu bara pada 2019 adalah 25,3 juta ton atau meningkat 12% dari realisasi angkutan kereta api pada tahun lalu. Suherman menambahkan, volume penjualan batu bara ditargetkan menjadi 28,38 juta ton, terdiri atas penjualan batu bara domestik 13,67 juta ton dan ekspor 14,71 juta ton. Angka itu meningkat 15% dari realisasi penjualan batu bara tahun silam.

Peningkatan Target Penjualan

“Peningkatan target penjualan ini ditopang rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium to high calorie ke premium market sebanyak 3,8 juta ton,” ujar Suherman. Jasa Marga Jasa Marga. Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto mengungkapkan, perseroan mengalokasikan capex Rp 20 triliun tahun ini. Angka itu kurang lebih sama dengan 2019 karena ada beberapa proyek yang telah selesai namun belum dibayarkan tahun lalu.

Salah satunya adalah proyek Jakarta Cikampek (Japek) Elevated. “Ritme pada 2020 seharusnya sama saja dengan tahun sebelumnya,” kata dia. Belanja modal tersebut, menurut Eka, bakal digunakan untuk membiayai sejumlah proyek. Namun sejauh ini belum ada proyek jalan tol baru yang ditawarkan. Itu sebabnya, Jasa Marga akan fokus mengerjakan proyek baru yang sudah ada. “Proyek yang kami garap ini adalah ruas-ruas yang belum beroperasi, seperti tol JORR dan Manado-Bitung,” tutur dia. Eka menjelaskan, perseroan akan menggunakan pinjaman bank, yakni sekitar 70% untuk memenuhi belanja modal. Sisanya akan dipenuhi dari berbagai instrumen, baik lokal maupun global. “Opsinya banyak, baik lokal maupun global. 

Kami sudah beberapa kali menerbitkan produk keuangan, tinggal cari harga yang optimal,” tegas dia. Belanja modal tersebut, menurut dia, diharapkan mampu menopang kinerja bisnis Jasa Marga tahun ini. “Kami berharap pendapatan bertumbuh signifikan seiring beroperasinya ruas-ruas tol baru,” tandas dia. Capex PT PP PT Pembangunan Perumahan (PTPP). 

Baca Juga : Pembangkit Listrik Energi Terbarukan Ramah Kocek

PT PP juga menganggarkan capex yang cukup besar, sekitar Rp 7,5 triliun tahun ini, dibandingkan tahun lalu Rp 6,8 triliun. Capex tersebut akan digunakan untuk membiayai modal kerja dan mendanai sejumlah proyek perseroan. Menurut Presiden Direktur PT PP Lukman Hidayat, capex perseroan berasal dari sisa dividen, divestasi aset, dan pinjaman perbankan. Sedangkan penggunaan belanja modal difokuskan untuk pengembangan “Sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk proyek di sektor air, jalan tol serta energi baru terbarukan (EBT) biomassa di wilayah Indonesia timur. 

Perseroan juga berencana membuat sistem instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO),” ujar dia. Sejalan dengan itu, Kalbe Farma memproyeksikan capex 2020 sebesar Rp 1-1,5 triliun, lebih rendah dari capex 2019 yang mencapai Rp 1,5-2 triliun. Direktur Kalbe Farma Bernandus Karmin Winata mengatakan, pada 2019 perseroan memfokuskan penggunaan capex untuk pembangunan pabrik dan transformasi digital.

Dengan demikian, alokasi capex cenderung lebih tinggi mencapai Rp 1,5-2 triliun. “Tahun lalu capex lebih tinggi karena digunakan untuk pembangunan pabrik di Myanmar, Cikarang, dan Pulogadung,” papar dia.

Pada 2020, kata dia, Kalbe belum berencana mendirikan pabrik baru. Karena itu, capex akan digunakan untuk modal kerja dan penyelesaian pembangunan sejumlah pabrik. Prospek Saham Head of Fixed Income Division PT Indomitra Securities Maximilianus Nico Demus. Sementara itu, kalangan analis yakin saham-saham yang tergabung dalam indeks 45 saham paling likuid di bursa (LQ45) pada 2020 berkinerja lebih baik, meskipun baru-baru ini terdapat sentimen baru berupa ketegangan antara AS dan Iran. 

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan prospek saham LQ45 tahun ini positif akibat tercapainya kesepakatan antara AS dan Tiongkok yang akan diperkirakan terjadi pada 15 Januari 2020.

Baca Juga : Amerika Siaga, Harga Emas dan Minyak Dunia Bergerak Naik

“Semuanya kembali lagi, kuncinya adalah keputusan antara AS dan Tiongkok, itu akan menjadi alasan untuk menguat,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (6/01). Nico mengakui, ketegangan antara AS dan Iran berpotensi meningkat, menyusul tewasnya Qassem Soleimani, komandan pasukan elite Iran, akibat serangan rudal AS. 

Namun, Iran diperkirakan tidak akan menyerang balik, sehingga sentiment itu tidak akan berkepanjangan. Nico menambahkan, saham yang masih menjadi favorit di antaranya saham perbankan, infrastruktur, dan kesehatan. “Saham-saham sektor kesehatan termasuk favorit karena sektor kesehatan menjadi salah satu program prioritas pemerintah tahun ini. Jadi, saham-saham, seperti Hermina, Mika, dan Siloam patut dicermati,” papar Nico. 

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas juga memperkirakan saham-saham LQ45 berkinerja positif tahun ini, terutama pada kuartal I-2020. Sentimen positifnya antara lain progress kesepakatan perang dagang dan tren penurunan suku bunga. Dia menambahkan, sentimen ketegangan antara AS dan Iran sangat memegaruhi pergerakan pasar saham Senin (6/1), sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 1,04%. “Sentimen itu akan sangat mengganggu jika sampai terjadi perang dunia ketiga,” ucap dia. Sukarno Alatas merekomendasikan ANTM dengan target harga Rp 1.025, ASII (Rp 7.500), BSDE (Rp1.500), BBRI (Rp 4.600), BBNI (Rp 8.500), BMRI (Rp 8.550), ERAA (Rp 1.900), dan JPFA (Rp 1.500). Lainnya yaitu JSMR dengan target harga Rp 5.850, PGAS (Rp 2.300), TLKM (Rp 4.300), PTPP (Rp 1.925),WIKA (Rp 2.500), WSKT (Rp 1.700), UNTR (Rp 23.800), dan INKP dengan target harga Rp 9.300.