Ekspor Nikel Pertaruhkan Cadangan dan Sumberdaya

Ekspor Nikel Pertaruhkan Cadangan dan Sumberdaya

Ekspor-Nikel-Pertaruhkan-Cadangan-dan-Sumberdaya
Ekspor Nikel Pertaruhkan Cadangan dan Sumberdaya

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan untuk kebijakan relaksasi ekspor nikel ore kembali perlu dikaji lebih mendalam karena akan berpengaruh kepada neraca sumberdaya dan cadangan nikel.

Usulan penambang nikel agar pemerintah membuka keran ekspor bijih nikel berkadar rendah perlu dikaji lebih dalam. Terutama memperhatikan aspek neraca sumberdaya dan cadangan nikel. 

“Pemenuhan kebutuhan bijih nikel untuk kebutuhan dalam negeri. Harga komoditas akibat over supply dan pada akhirnya akan berpenagaruh kepada kelayakan bisnis smelter,” ujarnya.

Virus corona memang sudah mempengaruhi segala lini kehidupan dan bisnis di hampir seluruh Negara di dunia termasuk Indonesia.

Hal ini juga dapat memengaruhi dunia tambang apabila penyebaran Covid-19 ini tidak bisa dibendung karena sifat penularannya sangat cepat dan pembawa virus atau carrier tidak menunjukkan gejala-gejala yang berarti.

Setelah pemerintah mencabut aturan relaksasi ekspor nikel ore, memang banyak perusahaan yang terkena imbasnya karena tidak membangun smelter sendiri sehingga tidak bisa berproduksi seperti biasanya.

Hanya perusahaan tambang yang memiliki smelter atau pembeli dari smelter yang beroperasi untuk memenuhi permintaan pelanggan smelter.

“Diharapkan kalau smelter yang direncanakan selesai dibangun semua, tentu permintaan akan nickel ore akan meningkat lagi. Namun, lagi-lagi karena pengaruh covid-19 ini bisa berpengaruh kepada penyelesaian pembangunan smelter tersebut,” kata Rizal.

Baca Juga: Pertama Kali! Arab Saudi Pompa 12 Juta Barel Minyak

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambangan Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey meminta pemerintah untuk membuka kembali keran ekspor bijih nikel berkadar rendah sementara agar penambang bisa hidup dan bertahan.

Hal ini agar para penambang tak mengurangi jumlah tenaga kerja dan dapat membayar sejumlah kredit perbankan di tengah pandemi Covid-19.