DME Tekan Impor Elpiji 4 Juta Ton Lebih

DME Tekan Impor Elpiji 4 Juta Ton Lebih
DME Tekan Impor Elpiji 4 Juta Ton Lebih

Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kementerian ESDM mengungkapkan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) melalui proses gasifikasi, impor elpiji atau LPG dapat di tekan sebesar 4,6 juta ton hingga 2025 mendatang.

Program gasifikasi mengubah batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) untuk substitusi LPG.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, bila target tersebut dapat tercapai, berarti impor LPG pada 2025 nanti hanya tersisa 1,4 juta ton dari tahun lalu yang sebanyak 6 juta ton.

“Jadi, kedepannya saya rasa kita memang harus memikirkan kemandirian energi kita, memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada di dalam negeri,” ujar Arifin. 

Kini  PT Pertamina (Persero) dan PT Bukit Asam (Persero) tengah bekerja sama melakukan pengembangan DME dengan kapasitas 1,43 metrik ton per tahun.

Di luar itu, DME juga dapat dihasilkan dari optimalisasi produksi methanol perusahaan perjanjian karya pengusaha pertambangan batu bara (PKP2B).

“Konversi dari metanol ke DME ini hanya membutuhkan biaya investasi kecil. Jadi, kita masih punya cadangan untuk pengganti LPG ini,” imbuh Arifin. 

Selain diubah menjadi DME untuk pengganti LPG, kelebihan produksi methanol juga dapat dialihkan untuk substitusi produksi lainnya, seperti gasoline, olefin dan kebutuhan industri lainnya.

Impor gasoline Indonesia sendiri mencapai 140 juta barel pada 2021.

Pengurangan defisit gasoline perlu dilakukan dengan pencampuran methanol atau alkohol (methanol-ethanol blending). 

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto menjelaskan, ada tiga langkah yang ditempuh untuk menekan impor LPG.

Di antaranya program jaringan gas (Jargas), kompor listrik, dan gasifikasi. 

Program pembangunan Jargas akan dilanjutkan ke seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sumber-sumber gas dan yang dialiri oleh pipa gas.

Menurutnya sekarang sudah ada 600 ribu sambungan rumah (SR) yang dipasang Jargas.

Baca Juga: Harga Nikel & Emas Kian Melaju, ANTM Pacu Kinerja

Menurut Siswanto, melalui program Jargas ini bisa mengurangi impor LPG 1,1 juta ton setara LPG di tahun 2030.

Lalu pada tahun 2040 bisa mengurangi impor sebesar 2,2 juta ton LPG.

Selain Jargas, imbuhnya, pemerintah juga memiliki program kompor listrik.

Djoko menyebut, mulai tahun ini sampai dengan 2025, pemakaian kompor listrik bisa mengurangi impor LPG sebanyak 1 juta ton.