Diversifikasi Kokohkan Kinerja Perusahaan Induk Petrosea

Diversifikasi Kokohkan Kinerja Perusahaan Induk Petrosea

Diversifikasi Kokohkan Kinerja Perusahaan Induk Petrosea
Diversifikasi Kokohkan Kinerja Perusahaan Induk Petrosea

Perusahaan induk Petrosea, Indika Energy prospeknya menjadi lebih cerah setelah perseroan terus menggenjot diversifikasi dan ekspansi di sektor non-batu bara.

Upaya diversifikasi bisnis yang dilakukan konglomerasi Grup Indika dinilai membantu perseron untuk mendapatkan pendapatan yang relatif stabil di tengah bergejolaknya pasar batu bara.

Prospek emiten milik konglomerasi Indika menjadi lebih cerah setelah perseroan terus menggenjot diversifikasi dan ekspansi di sektor non-batu bara.

Ini membuat prospek pendapatan perseroan relatif stabil. Jika sebelumnya hanya berfokus pada batu bara yang sangat bergantung pada volatilitas harga, prospek menjadi penuh ketidakpastian.

Tetapi dengan rambah salah satunya ke power plant pendapatan menjadi lebih fix walaupun batu bara naik-turun.

Selain itu, fokus perseroan tertuju pada pembangunan fuel storage di Kalimantan Timur dan penambahan kepemilikan saham untuk proyek emas Awak Mas di Sulawesi Selatan juga dinilai merupakan langkah yang baik.

Walaupun dua proyek tersebut masih bergantung kepada komoditas yang harganya tidak menentu, proyek tambang emas dan pembangunan fuel storage tersebut tetap menjadi katalis positif untuk prospek perseroan yang lebih cerah

Di antara tiga emitan milik konglomerasi Indika Group yaitu PT. Indika Energy Tbk. (INDY), PT. Petrosea Tbk. (PTRO) dan PT. Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS), saham INDY sebagai holding dari konglomerasi Indika Group, masih lebih baik.

Hal tersebut dikarenakan diversifikasi yang dimiliki oleh holding, dibandingkan dengan entitas anak usaha yang fokus terhadap satu sektor, seperti MBSS yang fokus terhadap pelayaran.

Dengan demikian, sahamnya pun menarik untuk dikoleksi. Apalagi, harganya yang cenderung masih murah.

Kendati demikian, prospek pergerakan saham grup Indika dalam jangka pendek masih cukup lemah dikarenakan banyaknya sentimen negatif yang membayangi pasar modal secara keseluruhan.

INDY diproyeksi masih memiliki pendapatan yang lebih rendah karena harga batu bara yang lebih lemah hingga saat ini.

Diperkirakan laba inti INDY pada 2020 sebesar US$69 juta, turun 14 persen dari perkiraan laba inti sepanjang 2019.

Baca Juga: Tambang Bawah Tanah Kunci Masa Depan Freeport

Diperkirakan pertumbuhan pendapatan melambat untuk anak usaha Kideco, Petrosea, MBSS, dan Tripatra setelah membukukan pemulihan yang cukup baik pada 2019.

Sementara itu, untuk diversifikasi bisnis yang tengah digenjot, perseroan diyakini dapat tetap melakukan investasi lebih lanjut dalam bisnis sektor non batu bara.