Diversifikasi Bisnis Kokohkan Kinerja INDY

Prospek emiten milik konglomerasi Indika (INDY) menjadi lebih cerah setelah perseroan terus menggenjot diversifikasi dan ekspansi di sektor non-batu bara.

Diversifikasi-Bisnis-Kokohkan-Kinerja-INDY
Diversifikasi Bisnis Kokohkan Kinerja INDY

Upaya diversifikasi bisnis yang dilakukan konglomerasi Grup Indika dinilai membantu perseron untuk mendapatkan pendapatan yang relatif stabil di tengah bergejolaknya pasar batu bara.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan bahwa prospek emiten-emiten milik konglomerasi Indika menjadi lebih cerah setelah perseroan terus menggenjot diversifikasi dan ekspansi di sektor non-batu bara.

“Ini membuat prospek pendapatan perseroan relatif stabil. Jika sebelumnya hanya berfokus pada batu bara yang sangat bergantung pada volatilitas harga, prospek menjadi penuh ketidakpastian. Tetapi dengan rambah salah satunya ke power plant pendapatan menjadi lebih fix walaupun batu bara naik-turun,” ujar Alfred 

Selain itu, fokus perseroan pada tahun ini yang tertuju pada pembangunan fuel storage di Kalimantan Timur dan penambahan kepemilikan saham untuk proyek emas Awak Mas di Sulawesi Selatan juga dinilai merupakan langkah yang baik.

Baca Juga : Harga Emas Dunia Naik Akibat Virus Corona!

Walaupun dua proyek tersebut masih bergantung kepada komoditas yang harganya tidak menentu. Alfred menilai proyek tambang emas dan pembangunan fuel storage tersebut tetap menjadi katalis positif untuk prospek perseroan yang lebih cerah

“Emas masih cenderung lebih stabil pergerakan harganya dan memiliki pamor yang baik di pasar. Sedangkan pembangunan fuel storage sebagai jasa penyimpanan minyak tidak akan berdampak langsung jika harga fluktuatif,” jelas dia.

Efisiensi produksi di antara tiga emitan milik Indika Group yaitu PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Petrosea Tbk. (PTRO), dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS), Alfred cenderung berpihak terhadap saham INDY sebagai holding dari Indika Group.

Hal tersebut dikarenakan diversifikasi yang dimiliki oleh holding, dibandingkan dengan entitas anak usaha yang fokus terhadap satu sektor, seperti MBSS yang fokus terhadap pelayaran.

Dengan demikian, sahamnya pun menarik untuk dikoleksi. Apalagi, harganya yang cenderung masih murah.

Bagaimana Prospeknya?

Kendati demikian, prospek pergerakan saham grup Indika dalam jangka pendek masih cukup lemah. Hal ini dikarenakan banyaknya sentimen negatif yang membayangi pasar modal secara keseluruhan.

Pada perdagangan Kamis (13/2/2020), saham INDY ditutup melemah 4,09 persen di level Rp820 per saham. PTRO melemah 0,67 persen di posisi Rp1.490 per saham. Dan MBSS ditutup terdepresiasi 0,49 persen menjadi Rp408 per saham.

Di sisi lain, mengutip riset PT. Sinarmas Sekuritas INDY diproyeksi masih memiliki pendapatan yang lebih rendah karena harga batu bara yang lebih lemah hingga saat ini.

“Kami memperkirakan laba inti INDY pada 2020 sebesar US$69 juta. Turun 14 persen dari perkiraan laba inti sepanjang 2019,” tulis Sinarmas Sekuritas seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (13/2/2020).

Sinarmas Sekuritas juga memperkirakan pertumbuhan pendapatan melambat untuk anak usaha Kideco, Petrosea, MBSS, dan Tripatra setelah membukukan pemulihan yang cukup baik pada 2019.

Sementara itu, untuk diversifikasi bisnis yang tengah digenjot, perseroan diyakini dapat tetap melakukan investasi lebih lanjut dalam bisnis sektor non batu bara.

“Perusahaan saat ini memiliki saldo kas sebesar US$750 juta atau 20 persen dari total aset dan hutang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,8 kali, yang kami yakin cukup untuk mendukung ekspansi,” jelasnya.