Dilema Tenaga Kerja Tambang

Dilema Tenaga Kerja Tambang

Dilema-Tenaga-Kerja-Tambang
Dilema Tenaga Kerja Tambang

Badan Pusat Statistik pada Februari 2020 mencatat, bahwa rata-rata upah buruh sektor pertambangan dan penggalian merupakan upah buruh tertinggi dibandingkan sektor lapangan usaha yang lain.

Rata-rata upah buruh laki-laki mencapai Rp. 5.078.571,- dan rata-rata upah buruh perempuan mencapai Rp. 5.625.999,- . Sehingga rata-rata upah buruh pertambangan dan penggalian mencapai Rp. 5.099.655.

Rata-rata upah buruh yang tinggi tersebut memang sepadan dengan resiko pekerjaan yang tinggi pula.

Selain itu, dengan jumlah penduduk bekerja di lapangan pekerjaan pertambangan dan penggalian mencapai 1,34 juta orang per Februari 2020, menjadikan buruh pertambangan dan penggalian lebih eksklusif. Karena hanya diemban oleh 1,03% penduduk bekerja.

Namun, sebelum adanya pandemi Covid-19 ini. Jumlah buruh pertambangan dan penggalian di Indonesia selalu menunjukkan tren jumlah yang menurun tiap tahunnya.

Tercatat pada Februari 2019 jumlahnya mencapai 1,37 juta jiwa dan pada Februari 2018 jumlahnya mencapai 1,38 juta jiwa.

Dengan adanya pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir. Jumlah tersebut kemungkinan besar diprediksi akan berkurang lagi pada tahun depan.

Kebanyakan dari mereka tidak di-PHK oleh perusahaan, hanya dirumahkan. Karena perusahaan juga pasti kebingungan untuk menutupi pesangon para buruh jika di-PHK.

Dengan dirumahkannya para buruh, secara otomatis para buruh tidak mendapatkan upah. Sehingga kebutuhan sehari-hari pun tidak bisa dipenuhi.

Hal ini akan mengakibatkan tren pengangguran naik kembali, setelah tiga tahun sebelumnya mengalami penurunan. Dimana pada Februari 2020 mencapai 4,99%.

Baca Juga: Harga Batu Bara Melesat

Dengan kondisi seperti itu. Tentu buruh tambang mengalami dilema. Kalau masih mau mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka yang dirumahkan harus mencari pekerjaan sementara selama pandemi Covid-19. Dan ini yang harus dicarikan solusi bersama.