Dampak Penurunan Permintaan Batu Bara Global

Dampak Penurunan Permintaan Batu Bara Global

Dampak Penurunan Permintaan Batu Bara Global
Dampak Penurunan Permintaan Batu Bara Global

Penurunan permintaan batu bara global yang berdampak pada rata-rata harga jual dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan tambang.

Namun, pemangkasan target produksi batu bara dan permintaan pada kuartal IV tahun ini yang diperkirakan kembali meningkat bisa menjadi sentimen positif terhadap emiten batu bara dalam negeri. 

Penurunan permintaan batu bara dunia akibat pandemic Covid-19 telah berimbas terhadap penurunan target produksi batu bara oleh sejumlah penambang domestik.

Besaran pemangkasan target berkisar 4-18% dari target semula.

Penurunan permintaan batu bara global, menurut dia, terlihat dari data impor batu bara India yang turun hingga 35,8% menjadi 57 juta ton selama April-Juli 2020, seiring stok yang masih berlimpah di negara tersebut.

Jepang juga mencatat penurunan impor batu bara hingga 3,6% menjadi 62 juta ton sepanjang tujuh bulan tahun ini karena dipicu oleh pelemahan permintaan listrik bersamaan dengan rendahnya harga gas. 

Sedangkan impor batu bara Tiongkok meningkat 6,8% menjadi 200 juta ton sepanjang Januari-Juli tahun ini.

Permintaan tersebut diperkirakan lebih rendah pada semester II tahun ini, meskipun ada perbedaan harga jual batu bara dalam negeri dan impor.

Kondisi tersebut membuat perusahaan pertambangan nasional memangkas target volume produksi tahun ini. 

Pemangkasan tidak lain akibat penurunan permintaan setelah pandemic Covid-19 melanda dunia.

Pemangkasan target terungkap dari data perusahaan Coal India Limited dan asosiasi penambang batu bara Rusia.

Baca Juga: Perusahaan Tambang RI Dapat Layanan Digitalisasi Perpajakan

Meski permintaan global turun, harga jual batu bara masih memiliki peluang untuk kembali pulih tahun ini, setidaknya pada kuartal IV-2020.

Adanya musim dingin dan ekspektasi perbaikan ekonomi global tahun depan diharapkan berimbas terhadap kenaikan harga jual batu bara dari posisi terendahnya saat ini yang mencapai US$ 50 per ton.