Daftar Panjang Oligarki Industri Ekstraktif

Oligarki Industri
Daftar Panjang Oligarki Industri Ekstraktif

Daftar Panjang Oligarki Industri Ekstraktif – Mega proyek IKN di Kalimantan Timur teridentifikasi akan menguntungkan kepentingan segelintir penguasa lahan yakni tambang batu bara, sawit, kayu, dan pembangkit listrik tenaga uap batu bara serta pengusaha properti. Lebih dari itu, proyek besar ini diduga kuat akan menjadi jalan pemutihan atau cuci dosa perusahaan atas perusakan lingkungan yang telah dilakukan di tanah Kalimantan Timur.

Penelusuran dalam laporan ini menemukan nama-nama yang berpotensi menjadi penerima manfaat atas proyek tersebut, yaitu para politisi nasional dan lokal, beserta keluarganya yang memiliki konsesi industri ekstraktif.

Jika dilihat ring satu dan ring dua IKN, maka penguasaan konsesi didominasi oleh Sukanto Tanoto serta Hashim Djojohadikusumo lalu diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya yang terkait dengan 158 konsesi tambang, sawit hingga hutan.

Hashim Djojohadikusumo juga tercatat sebagai Komisaris Utama PT. International Timber Corporation Indonesia Kartika Utama (PT. ITCI KU) yang diberikan IUPHHK-HA seluas 173.395 hektar dan tepat berada di ring dua IKN. Hashim adalah adik kandung dari Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju yang sebelumnya menjadi rival Jokowi pada pilpres 2019. PT. ITCI Kartika Utama mengantongi SK Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK-HA) dengan nomor SK.160/Menhut-II/2012.

Sukanto Tanoto

Sukanto Tanoto adalah penguasa konsesi berikutnya yang berada di Kawasan Inti Ibu Kota Negara. Ia memegang konsesi IUPHHK – HT PT. International Timber Corporation Indonesia Hutani Manunggal (PT. ITCI HM). Konsesi ini memiliki luas 161.127 hektar, dan seluruh kawasan inti IKN atau ring satu seluas 5.644 hektar berada di lahan konsesi Sukanto Tanoto yang sebelumnya didapatkan dari Hashim Djojohadikusumo pada tahun 2006.

Nama yang muncul juga adalah Rheza Herwindo, anak dari Setya Novanto mantan Ketua Umum Partai Golkar, terpidana korupsi E-KTP. Namanya tercatat di dalam 3 (tiga) perusahaan tambang batu bara yakni PT. Eka Dwi Panca, PT. Mutiara Panca Pesona, dan PT. Panca Arta Mulia Serasi. Perusahaan-perusahaan milik keluarga Setya Novanto ini ditemukan berada di ring dua lokasi IKN.

Baca juga: Semen Indonesia Juara Pengelolaan Tambang di ASEAN Mineral Award

Luhut Binsar Pandjaitan

Penguasa konsesi lainnya yakni Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Kabinet Indonesia Maju. Pemilik perusahaan tambang batu bara ini terhubung melalui perusahaan PT. Toba Group yang anak group-nya antara lain PT. Adimitra Baratama Nusantara, PT. Trisensa Mineral Utama, PT. Kutai Energi, PT. Indomining dan kebun sawit PT. Perkebunan Kaltim Utama I yang seluruhnya berada di Kecamatan Muara Jawa yang juga merupakan lokasi ring tiga IKN. Perusahaan-perusahaan milik Luhut ini meninggalkan 50 lubang tambang yang menganga dan diduga akan mendapatkan keuntungan pemutihan dosa dari kewajiban reklamasi.

Di tempat yang tidak jauh, konsesi lain tercatat atas nama Yusril Ihza Mahendra, sosok ketua tim pengacara pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin dalam sengketa pilpres 2019. Nama Yusril tercatat memiliki saham, sekaligus menjabat sebagai komisaris utama perusahaan tambang batu bara PT. Mandiri Sejahtera Energindo Indonesia di Kecamatan Sepaku lokasi ring dua IKN.

Konsesi tambang terbesar yang masuk dan tercakup dalam kawasan IKN berikutnya adalah konsesi perusahaan tambang batu bara milik PT. Singlurus Pratama. Saham mayoritas PT. Singlurus Pratama dimiliki oleh Lanna Resources Public Company, sebuah perusahaan terbuka asal Thailand. Saham mayoritas lainnya juga dimiliki PT. Harita Jayaraya.

Perusahaan ini dimiliki oleh keluarga taipan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono bersama istrinya Rita Indriawati. Rita dalam data International Consortium for Investigatif Journalist (ICIJ) tercatat memilikiperusahaan yang terkait dengan kasus offshore leaks.

PT. Lanna Harita Indonesia

Melalui penelusuran ditemukan salah satu pemilik saham PT. Lanna Harita Indonesia, yakni PT. Harita Mahakam Mining, 95% sahamnya tercatat dimiliki PT Harita Jayaraya dan sisanya 5% terhubung dengan Yayasan Keluarga Besar Polri Brata Bhakti.

Di sektor penyediaan bisnis air bersih, PT. Arsari Tirta Pradana milik Hashim Djojohadikusumo berpotensi besar untuk meraup keuntungan. Hal itu dikarenakan kebutuhan air bersih akan meningkat seiring dengan datangnya jutaan penduduk baru di wilayah calon ibu kota. Tidak hanya Hashim yang akan untung, di perusahaan tersebut juga tercatat nama Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, bendahara umum Partai Gerindra, ia adalah anak dari Bianti Djiwandono, kakak sulung Prabowo Subianto.

Temuan Penting

Temuan penting lain, terdapat nama-nama para purnawirawan jenderal kepolisian maupun militer di berbagai perusahaan yang berada di kawasan IKN, yakni Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Dody Sumantyawan Hadidojo Soedaryo, S.H. Namanya tercatat sebagai komisaris PT. Indo Ridlatama Power.

Mayjen (purn) A. Ibrahim Saleh sebagai komisaris di perusahaan PT Etam Manunggal Jaya; Letjen TNI (purn) Suaidi Marasabessy, Letjen (purn) TNI Sintong Hamonangan Panjaitan, dan Brigjen (purn) Eddy Kustiwa Koesma yang ketiganya berada di jajaran petinggi PT. Toba Grup; Irjen Pol (purn) Drs. Dody Sumantyawan Hadidojo Soedaryo tercatat sebagai petinggi PT. Baramulti Suksesarana; Komjen (Purn) Nugroho Djayusman tercatat sebagai petinggi PT. Bintang Prima Energy Pratama; Laksamana TNI (purn) Syamsul Bahri tercatat sebagai petinggi PT. Bintang Prima Energy Pratama; Brigjen Pol (purn) dan Drs. Victor Edison Simanjuntak tercatat sebagai petinggi PT. Mandiri Sejahtera Energindo.

Data ICIJ menunjukkan salah satu pola kelicikan yang dilakukan pemilik saham dan direksi perusahaan tambang batu bara dan kebun sawit di proyek IKN adalah dengan memiliki perusahaan cangkang di negara surga pajak di British Virgin Island.

Dari penelusuran tersebut di atas, sejumlah politisi, purnawirawan jenderal polisi dan militer, para taipan properti, tambang, sawit, batu bara dan kayu diduga akan mendapatkan keuntungan besar dari mega proyek IKN. Terlebih situasi politik saat ini, hampir dipastikan tidak ada partai oposisi, sehingga pemerintah diduga kuat akan saling berbagi keuntungan.

PT. Agung Podomoro Grup

Di sektor properti, PT. Agung Podomoro Grup melalui anak perusahaan PT. Pandega Citra Niaga yang sebelumnya telah mendapatkan izin lokasi reklamasi Pantai Balikpapan langsung gerak cepat melakukan pemasaran kaveling properti mewah pasca-pengumuman lokasi IKN oleh Presiden Jokowi. PT. Agung Podomoro tidak sendiri, ada 6 perusahaan properti lainnya yang mendapatkan izin serupa dari Pemerintah Kota Balikpapan yang akan mendulang untung dari rencana hadirnya mega proyek IKN. Di antaranya PT. Sentra Gaya Makmur, PT. Royal Borneo Propertindo, PT. Avica Jaya Nusantara, PT. Karunia Waha Nusa, PT. Karya Agung Cipta, dan PT. Wulandari Bangun Lestari.

Perusahaan properti PT. Karya Agung Cipta, sahamnya dimiliki oleh Kokos Leo Lim. Ia Direktur Utama PT. Tansri Madjid Energi (TME). Kokos Leo Lim dan Khairil Wahyuni memiliki jejak terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi pengadaan batu bara Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Muara Enim, Sumatera Selatan yang merugikan Negara Rp477 miliar. Kokos divonis bebas oleh Pengadilan Tipikor Jakarta, tetapi Kejaksaan Jakarta Selatan dalam proses Kasasi ke Mahkamah Agung.

Tidak hanya tokoh nasional yang dekat dengan istana negara, nama lain pemilik konsesi tambang dari lokal diwakili oleh dinasti Rita Widyasari. Melalui perusahaan PT. Lembuswana Perkasa tercatat nama Hj. Dayang Kartini, ibu dari mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, sebagai pemilik saham di perusahaan ini. Dinasti politik ini acapkali berurusan dengan lembaga anti rasuah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tahun 2018, Rita Widyasari dinyatakan bersalah oleh pengadilan Tipikor dan harus mengembalikan uang negara dalam kasus korupsi menyusul ayahnya Syaukani H.R. Bupati Kutai Kartanegara yang sebelumnya juga ditangkap KPK pada tahun 2007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here