Corona Jadi Pandemi, Apa Kabar Harga Batu Bara?

Corona Jadi Pandemi, Apa Kabar Harga Batu Bara?

Corona-Jadi-Pandemi-Apa-Kabar-Harga-Batu-Bara?
Corona Jadi Pandemi, Apa Kabar Harga Batu Bara?

Pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (11/3/2020). Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup menguat 0,7% ke level US$ 65,05/ton, mengacu data Refinitiv.

Sebelumnya harga batu bara jatuh mengekor anjloknya harga minyak. Maklum kinerja impor batu bara di negara-negara kawasan Asia cenderung menurun dibanding tahun lalu. Walau harga batu bara naik, tetapi kinerja impor batu bara di kawasan Asia masih jauh dari tahun lalu.

Harga batu bara yang sudah anjlok dalam dan menyentuh level terendah sejak September tahun lalu membuat si batu hitam ini jadi murah. Harga batu bara kontrak berjangka yang sudah menyentuh level support-nya atau tahanan bawah membuatnya harganya naik.

Sejak awal bulan hingga kemarin, impor batu bara China menurut data Refinitiv sebesar 4,7 juta ton. Padahal tahun lalu pada periode yang sama impor batu bara China mencapai 5,9 juta ton.

Beralih ke Korea Selatan dan Jepang, kinerja impor batu bara kedua negara ini juga mencatatkan penurunan jika dibanding tahun lalu. Impor batu bara termal Korea Selatan dan Jepang sejak awal bulan sebesar 1,7 juta ton dan 2,7 juta ton.

Baca Juga: Ini 5 Risiko Bekerja di Sektor Pertambangan, Kamu Siap?

Jumlah tersebut masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,7 juta ton dan 4,3 juta ton. Pada bulan Maret ini, Korea Selatan merencanakan untuk tidak mengoperasikan 21-28 pembangkit listrik bertenaga batu bara demi mengurangi emisi.

Perlu diketahui, Korea Selatan memiliki kurang lebih 60 pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi dari batu bara yang menyumbang 40% suplai listrik negara tersebut.

Artinya upaya Korea Selatan untuk tak mengoperasikan pembangkit listrik ini jelas jadi risiko untuk sektor batu bara, terutama pasar batu bara jalur laut atau ‘seaborne’ Asia-Pasifik.

Sementara itu, India sebagai negara konsumen batu bara terbesar kedua setelah China juga mengimpor lebih sedikit batu bara dibanding tahun lalu pada periode awal Maret ini. Impor batu bara India sejak awal bulan sebesar 3,8 juta ton turun dari tahun lalu sebesar 4,6 juta ton.

Harga batu bara termal terutama dengan nilai kalori tinggi (> 6.000 Kcal/Kg) pada tahun ini memang masih diramal mengalami pelemahan, seperti tahun lalu. Apalagi kondisi saat ini sedang mengerikan.

Wabah corona yang sudah menjangkiti dunia dalam dua bulan terakhir ini sekarang menyandang status sebagai pandemi. Kemarin WHO sah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi.

Konsekuensi dari pandemi salah satunya adalah larangan bepergian ke negara-negara lain. Langkah ini akan banyak dilakukan oleh berbagai negara untuk menghindari penyebaran virus yang makin tak terkendali.

Berdasarkan data kompilasi John Hopkins University CSSE, total kasus kumulatif COVID-19 di lebih dari separuh negara di dunia telah melampaui 125.000. Jumlah korban meninggal akibat infeksi COVID-19 sudah mencapai 4.615 orang.

Dengan kondisi seperti sekarang ini, perekonomian global berada dalam ancaman. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan merevisi turun pertumbuhan ekonomi global pada 2020 dari sebelumnya 2,9% menjadi 2,4%. Ketika perekonomian tumbuh melambat biasanya harga-harga komoditas juga ikut tertekan, salah satunya batu bara.