China Boikot Batu Bara Australia!

China Boikot Batu Bara Australia!

China Boikot Batu Bara Australia!
China Boikot Batu Bara Australia!

Aksi boikot terjadi pada komoditas dagang batu bara. China secara sepihak memboikot batu bara asal Australia.

Otoritas bea cukai negeri Tirai Bambu telah memberi tahu pembuat baja dan operator pembangkit listrik negara itu, untuk berhenti mengimpor komoditas ini.

Kibijakan China tersebut dilakukan di tengah ketegangan yang berlangsung antara kedua negara.

Ini dilaporkan akan mempengaruhi baik batu bara termal (steaming coal) maupun kokas (coking coal).

Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham, mengaku mengetahui hal ini. Mereka kini sedang mendiskusikan dengan industri.

“Kami sedang berbicara dengan industri batu bara di sana dan mencari jaminan dari China terkait dengan masalah ini,” kata

Dewan Mineral Australia, ditulis oleh kantor berita The Guardian, juga mengaku telah mengetahui ini.

Namun, mereka menilai, prospek batu bara Australia tetap positif dalam jangka menengah.

Sebelumnya S&P Global Platts, mengutip beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan utilitas milik negara China dan pabrik baja telah menerima pemberitahuan lisan untuk menghentikan impor “dengan segera”.

Jika terkonfirmasi ini akan membuat hubungan kedua negara makin buruk. China sebelumnya ‘ngamuk’ ke negeri Kanguru karena vokalnya Australia soal asal usul virus corona termasuk pelarangan Huawei Technologies di jaringan 5G negeri benua itu.

China bahkan telah mengambil berbagai tindakanke eksportir Australia tahun ini.

Baca Juga: Batu Bara Bisa Bantu Penuhi Target Energi Hijau

Termasuk memberlakukan tarif dan menangguhkan impor dari lima pabrik pengolahan daging Australia dan meluncurkan dua penyelidikan perdagangan anggur negeri itu,

Australia mengekspor US$ 7,3 miliar batu bara ke China di semester I 2020 ini. Angka ini naik 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

China adalah importir batubara Australia terbesar. Batubara adalah ekspor terbesar kedua Australia tahun lalu, setelah bijih besi, US$ 39,52 miliar.