China Bantu Dorong Naiknya Harga Batu Bara Global

Must read

Head of Corporate Ratings PT PEFINDO Niken Indriarsih menyatakan, harga batu bara global menunjukan kenaikan signifikan yang disebabkan oleh permintaan tinggi dari China.  

Naiknya permintaan batu bara oleh Tirai Bambu dikarenakan negara tersebut tengah berada dalam proses pemulihan ekonomi. Pemulihan itu karena vaksinasi yang dijalankan sehingga kondisi ekonominya jauh lebih baik dibandingkan 2020. 

“Kemajuan yang terjadi di China itu memicu naiknya permintaan. Terutama permintaan meningkat dari sektor rumah tangga,” ujar Niken. 

Terkait hal tersebut, akan memicu pendapatan dari para pemain di sektor batu bara. Niken menerangkan, perlu adanya perhatian lebih rinci lagi dari sisi penjualan. Apakah banyak diperoleh dari porsi spot atau kontrak.

“Kalau penjualan secara kontrak, harga sudah ditentukan sebelumnya. Sementara porsi spot yang lebih besar bisa diuntungkan dengan potensi kenaikan pendapatan yang lebih besar pada tahun ini. Walaupun tentunya akan ada risiko tambahan pada saat harga batu bara mengalami penurunan,” tambah Niken.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkap Indonesia berencana mengurangi penggunaan batu bara hingga 60% pada tahun 2050. Kebijakan dilakukan untuk menekan dampak krisis iklim dan sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca yang berperan besar dalam peningkatan suhu global.

Merujuk pada wacana pemerintah tersebut, Niken menilai kebijakan itu adalah suatu langkah yang baik untuk mengamankan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, kemudian juga untuk mengurangi dampak buruk yang dihasilkan dari industri pertambangan bagi lingkungan.

Niken memprediksi rencana pemerintah baru dapat direalisasikan dalam jangka panjang, lantaran perlu mempertimbangkan infrastruktur dan kebijakan pendukung. Baginya semua rencana tersebut perlu dipersiapkan dengan baik.

“Dan juga dari kontrak yang masih berlaku antara perusahaan listrik negara dengan penyedia listrik pihak ketiga,” tambahnya.

Selanjutnya, Niken menyampaikan bahwa PLN akan mengkaji rencana pemerintah begitu juga kontrak-kontrak tersebut kapan berakhirnya. Dalam hal ini, ia memprediksikan paling cepat sekitar tahun 2030 kontrak berakhir.

Baca Juga : PT Petrosea Tbk Berhasil Menjawab Tantangan Pertambangan Era Revolusi Industri 4.0

“Sambil menunggu proses berlangsung, dalam jangka panjang PLN akan melakukan pengurangan konsumsi tenaga uap dengan pembangkit listrik yang memakai tenaga terbarukan,” tandas niken. 

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article