Catatkan Volume Penjualan Timah Naik

Catatkan Volume Penjualan Timah Naik

Catatkan-Volume-Penjualan-Timah-Naik
Catatkan Volume Penjualan Timah Naik

PT. Timah Tbk (TINS) mencatatkan volume penjualan timah sepanjang 2019 sebesar 67.704 metrik ton.

Jumlah ini naik 50,05% dari volume penjualan perusahaan pada periode 2018 yang hanya 33.818 metrik ton.

Selain itu, volume produksi logam timah TINS mencapai 76.389 MT, naik dari realisasi produksi tahun 2018 yang hanya 33.444 MT.

“Adanya perubahan regulasi di sektor pertambangan, terutama kewajiban penggunaan competent person untuk validasi cadangan dan asal-usul bijih sebagai bagian dari persyaratan ekspor logam memberikan kesempatan bagi TINS untuk optimalisasi produksi dan penjualan,” terang Abdullah Umar, Sekretaris Perusahaan PT Timah, dalam rilis yang Kontan.co.id terima, Kamis (16/4).

Meski volume produksi dan penjualan naik, namun manajemen TINS mengaku, harga logam timah dunia selama tahun 2019 terutama di semester-II 2019 mengalami penurunan.

Harga timah mengalami tekanan salah satunya akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Sebagai imbasnya, konsumsi industri pengguna logam timah mengalami penurunan penjualan yang pada ujungnya mempengaruhi permintaan logam timah. Salah satu contohnya adalah penjualan semiconductor.

Berdasarkan data Semiconductor Industry Association, penjualan semiconductor global selama tahun 2019 turun sekitar 12% secara year-on-year.

Sepanjang 2019 pula, harga rata-rata logam timah dunia yang tercatat di London Metal Exchange terkoreksi menjadi US$ 18.569 per MT atau sebesar 7% secara tahunan.

Secara kuartalan, harga rerata logam timah dunia pada kuartal IV- 2019 juga turun 3% menjadi US$ 16.697 per MT dibandingkan pada kuartal III-2019 yang sebesar US$ 17.146 per MT.

Baca Juga: Untung Digadai atau Dijual?

Asal tahu, emiten pelat merah ini membukukan pendapatan sebesar Rp. 19,30 triliun sepanjang tahun lalu atau melonjak 75,13% dari pendapatan 2018 yang hanya Rp. 11,02 triliun.

Meski demikian, tahun lalu TINS justru menanggung rugi tahun berjalan yang diatribusikan pada entitas induk hingga Rp. 611,28 miliar.

Padahal, TINS masih mengantongi laba bersih Rp 132,29 miliar pada tahun 2018.