Bukit Jaddih, Area Tambang yang Jadi Lokasi Wisata Photogenik

Sulit rasanya membayangkan jika bekas tambang kapur bisa menjadi destinasi wisata. Tetapi hal tersebut nyata jika kita berkunjung ke Bukit Kapur Jaddih yang terletak di Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan, Madura.

Bukit Jaddih
Bukit Jaddih, Area Tambang yang Jadi Lokasi Wisata Photogenik

Bukit ini yang menjadi objek wisata itu merupakan tempat penambangan kapur. Setiap hari aktivitas pertambangan kapur itu masih berjalan. Masih banyak truk dan angkutan berat yang berlalu-lalang mengangkut kapur-kapur tersebut.

Beberapa tahun terakhir bukit ini semakin ramai didatangi wisatawan berkat media sosial. Awalnya tak ada yang tertarik untuk datang ke Bukit Jaddih, terlebih lokasinya merupakan area pertambangan yang berdebu serta akses jalan yang rusak dan terjal.

Namun setelah beberapa spot dipercantik dan diubah menjadi tempat yang layak dan aman untuk dikunjungi, para wisatawan mulai berdatangan ke tempat ini.

Baca juga: Tanggung Jawab Sosial Petrosea Terhadap Lingkungan Hidup

Sebenarnya, bukit penambangan batu kapur putih ini bukan ditujukan untuk tempat wisata.

Latar Belakang Bukit Jaddih

Bukit Jaddih awalnya bukit yang dijadikan tempat persembunyian oleh para pejuang di zaman penjajahan Jepang. Oleh karenanya, dapat ditemui lubang-lubang yang menyerupai gua yang dahulu dipakai sebagai kamar persembunyian para penjajah.

Di tengah bongkahan Bukit Kapur terdapat sumber air membentuk danau yang diberi nama Aeng Goweh Pote. Mata air itu muncul dari sumber hasil galian kapur.

Yang menjadi daya tarik utama dari kawasan Wisata Bukit Kapur Jaddih adalah panorama alam sekitarnya yang fotogenik. Panorama alam yang pemandangannya bisa dikatakan hampir mirip dengan Cappadocia yang ada di Turki.

Walau sudah mulai terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan, hingga kini belum ada campur tangan pemerintah setempat untuk mengembangkan Bukit Jaddih. Pemilik tambang berinisiatif sendiri mengelola bekas tambang mereka agar layak menjadi tempat wisata.

Kapur-kapur itu di jual kepada masyarakat sekitar Bangkalan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 Juta per mobil bak, untuk dijadikan dinding rumah atau batu pondasi yang kokoh.

Meski dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, namun tambang itu nyata seperti buah simalakama. Bisa saja area pertambangan itu pun suatu saat nanti akan termakan umur dan ambruk karena penambangan yang terus terjadi, tanpa adanya pengawasan dari pihak berwajib.