Bisnis Emas Hitam Penuh Kabut

Bisnis Emas Hitam Penuh Kabut

Bisnis-Emas-Hitam-Penuh-Kabut
Bisnis Emas Hitam Penuh Kabut

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Baru Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan sejauh ini sulit untuk memproyeksikan kondisi supply, demand dan harga hingga akhir 2020.

Komoditas batu bara mengalami tekanan yang berat sepanjang tahun ini akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Hal itu dikarenakan Covid-19 yang masih melanda dan secepat apa recovery ekonomi industri di negara-negara pengimpor batubara.

“Yang pasti demand impor batubara di China akan berkurang di tahun ini dibandingkan 2019. Yang diprediksi bisa mencapai 20 juta ton,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/5/2020)

Terlebih PLTU batubara di Tiongkok diminta untuk memprioritaskan pasokan batubara domestik. Di sisi lain, perselisihan dagang antara China dan Australia terkait impor daging sapi diperkirakan bisa merembet ke komoditas batubara. Dimana Australia salah satu eksportir batubara terbesar ke China.

Sementara itu, demand dari India juga berkurang drastis akibat kebijakan lockdown nationwide yang masih berlanjut hingga akhir Mei.

“Untuk memprediksi hingga akhir tahun 2020 juga sulit karena penanganan covid-19 masih dilanda ketidakpastian karena masih ada kekhawatiran serangan gelombang kedua terutama disaat musim dingin [kuartal IV],” terang Hendra.

Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso berpendapat komoditas batubara tetap tertekan dengan kondisi Covid-19 baik quantitas maupun harga. Kebutuhan energi menurun karena kegiatan ekonomi belum naik.

“Kenormalan baru banyak yang belum bisa mengambarkan tetapi pemakaian energi yg lebih efisien akan meningkat,” ucapnya.

Baca Juga: Target Bauran Energi 23% Sulit Tercapai

Sementara itu,  PT. Bukit Asam Tbk tengah mengkaji peluang untuk merevisi target volume penjualan dan produksi batu bara sepanjang tahun ini sebagai dampak dari merebaknya pandemi Virus Corona (Covid-19) sejak awal tahun ini.

Direktur Utama PT. Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan revisi target volume dan penjualan akan dilakukan apabila pandemi Covid-19 terus berlangsung hingga bulan Oktober dan November.