Harga Batubara DMO, Menunggu Kepastian Untuk Pembangkit Listrik

Sejumlah pihak menanti keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kelanjutan patokan harga Batubara Domestic Market Obligation (DMO) batubara untuk pembangkit PLN di tahun 2020 mendatang. Sebelumnya, pemerintah menerapkan patokan harga batubara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) untuk sektor kelistrikan sebesar US$ 70 per ton.

Ketentuan terkait patokan harga batubara ini hanya berlaku hingga akhir tahun 2019. Sementara untuk tahun depan, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono belum dapat menentukan kelanjutan dari kebijakan tersebut kewajiban DMO demi memastikan ketersediaan pasokan dalam negeri.

Baca juga: Mengapa China Berinvestasi Tambang Batu Bara di Indonesia?

Disisi lain, beberapa perusahaan batubara masih terus berupaya melaksanakan kewajiban tersebut. PT Bumi Resources Tbk hingga September 2019 telah melaksanakan kewajiban DMO 25% dari total penjualan sebanyak 63,1 juta ton. Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia. Hendra mengaku asosiasi menghormati keputusan Kementerian ESDM, namun disisi lain ia menyarankan pemerintah segera melakukan kajian memasuki kuartal IV 2019. Sebab PLN sudah untuk sehingga Harga $70/ton sudah tidak relevan lagi karena harga acuan sudah berada di bawah angka tersebut. Selain itu mMasih menurut Hendra, lonjakan produksi batubara yang terus terjadi tidak sejalan dengan permintaan domestik yang rendah. Hendra bahkan menyatakan asosiasi telah menyampaikan hal ini kepada pemerintah sejak September lalu.

Dalam data Kementerian ESDM, hingga penghujung Oktober 2019, realisasi DMO baru mencapai 66,75% atau setara 85,47 juta ton dari target DMO sebesar 128,04 juta ton. Namun, Menurut Kepala Divisi Batubara PT PLN, Harlen, realisasi pasokan batubara untuk kelistrikan masih sesuai target. Harlen menerangkan, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN dan Independent Power Producer (IPP) sudah menyerap 72 juta ton batubara sepanjang Kuartal III-2019. Jumlah itu setara dengan 75% dari pemenuhan batubara untuk kelistrikan tahun ini yang dipatok sebesar 96 juta metrik ton.